Harga emas diprediksi berpotensi mengalami penurunan hingga mencapai level US$ 4.000 per troy ounce. Proyeksi ini didasarkan pada ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang semakin besar dan lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Namun, para ahli memperkirakan fluktuasi tajam ini tidak akan berlangsung lama, dengan potensi pemulihan harga dalam enam bulan ke depan.
Kepala Strategi Emas di State Street Investment Management, Aakash Doshi, menyatakan bahwa harga emas masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren kenaikan dan mencapai US$ 5.000 per troy ounce dalam enam bulan mendatang. Doshi menjelaskan bahwa saat ini harga emas menghadapi hambatan signifikan akibat antisipasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih agresif dan penguatan dolar AS.
Meskipun demikian, Doshi menekankan bahwa terlepas dari risiko penurunan tersebut, permintaan struktural yang kuat di pasar emas tetap ada. Ia menilai aksi jual emas tidak mengejutkan mengingat perubahan drastis dalam ekspektasi suku bunga. Doshi mencatat bahwa pasar kini telah memperhitungkan dua kenaikan suku bunga tambahan sejak pertengahan Agustus 2026, dan ekspektasi jangka panjang juga mengalami perubahan signifikan.
“Langkah The Fed menaikkan suku bunga beberapa kali lagi menurut saya merupakan hambatan taktis bagi emas. Hal itu membuat jalan menuju level lima ribu menjadi sedikit lebih menantang karena orang-orang mencermati imbal hasil riil yang tinggi,” ujar Doshi.
Kendati demikian, Doshi meyakini bahwa koreksi harga emas saat ini tidak akan mengubah prospek struktural jangka panjangnya secara signifikan. Ia menambahkan bahwa permintaan fisik dan investasi emas, khususnya dari China, terus menjadi penopang harga.
State Street mencatat bahwa impor emas non-moneter China mencapai rekor 1.000 ton selama tujuh bulan pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun harga emas lokal rata-rata mengalami kenaikan sekitar 45% secara tahunan. Doshi juga menyoroti bahwa investor emas di negara-negara Barat terus mengalokasikan dana ke emas meskipun terjadi penurunan harga.
Arus masuk dana ke ETF emas selama bulan September menunjukkan bahwa investor strategis masih memandang emas sebagai sarana lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan makro dan risiko yang membayangi mata uang fiat. ETF emas global mencatatkan arus masuk sebesar US$ 17,1 miliar pada bulan tersebut, sementara dana yang terdaftar di bursa AS mencatat arus masuk sebesar US$ 7,9 miliar, menandai capaian bulanan terkuat sejak September 2025.