Pochettino Bingung Tentukan Sanksi Pantas untuk Manchester City atas 114 Pelanggaran Finansial

JAKARTA – Mantan pelatih Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, menyatakan kebingungannya mengenai sanksi yang seharusnya dijatuhkan kepada Manchester City terkait dugaan pelanggaran 114 aturan keuangan. Manchester City sendiri didakwa melanggar 114 dari total 115 tuduhan yang diajukan kepadanya, dengan pelanggaran tersebut terjadi antara tahun 2009 hingga 2023.

Selama periode tersebut, Manchester City berhasil mengumpulkan sejumlah gelar bergengsi, termasuk tujuh gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions. Munculnya dakwaan ini memicu reaksi dari beberapa tim yang merasa dirugikan dalam persaingan pada periode tersebut.

Ketika ditanya mengenai hukuman yang adil bagi City, Pochettino mengaku kesulitan memberikan jawaban. “Sangat sulit untuk menentukan hukuman yang adil ketika dari 115 dakwaan, Anda dinyatakan bersalah atas 114 di antaranya. Sebab, ada klub lain seperti Nottingham Forest atau Everton yang melanggar aturan namun menerima sanksi yang berbeda, baik pengurangan poin maupun denda,” ujar Pochettino, mengutip ESPN.

Pochettino menekankan bahwa situasi ini sangat membingungkan mengingat besarnya jumlah dakwaan. Ia juga mempertanyakan efektivitas pengawasan yang seharusnya mencegah pelanggaran semacam itu terjadi. “Ini adalah situasi yang sangat sulit dan mengejutkan mengingat besarnya putusan tersebut. Dan wajar juga untuk bertanya di mana pengawasan yang seharusnya ada, sehingga aturan bisa dilanggar seperti itu. Itulah yang paling menarik perhatian saya,” terangnya.

Sebagai perbandingan, Pochettino mencontohkan pengalamannya saat Tottenham Hotspur membangun stadion baru yang membatasi kemampuan klub untuk mendatangkan pemain. Ia merasa heran mengapa klubnya diawasi dengan ketat sementara tim lain tampaknya lebih longgar dalam mematuhi aturan keuangan. “Itu merupakan kerugian besar karena kami sedang bersaing dengan tim-tim terbaik dan berhasil mencapai final Liga Champions [pada 2019]. Mengapa pengawasan terhadap kami begitu ketat, sementara terhadap tim lain tidak seketat itu? Itulah mengapa saya mengatakan semuanya sangat aneh, dan masalahnya adalah semuanya menjadi kabur,” katanya.

Pochettino menambahkan bahwa jika tuduhan tersebut terbukti benar, maka kredibilitas pengawasan Liga Premier patut dipertanyakan. Ia merasa prihatin karena apa yang telah diraih dan dirayakan oleh klub tersebut mungkin tidak sepenuhnya sah. “Jika benar mereka melanggar 114 aturan, kita telah melewati masa-masa penipuan. Tidak ada bentuk hukuman pun yang bisa memperbaiki apa yang telah terjadi, dan kredibilitas pengawasan Liga Premier telah rusak parah. Ini situasi yang sangat menyedihkan karena apa yang sudah diraih dan dirayakan mungkin tidak nyata, dan apa yang tidak begitu baik sebenarnya bisa lebih baik,” tuturnya.

Ia berharap agar kasus ini setidaknya dapat memastikan adanya kesetaraan dalam persaingan sepak bola di masa depan. “Kami telah melewati periode di mana keadilan olahraga tidak ada. Jika tuduhan tersebut terbukti, sangat sulit untuk memperbaiki apa yang telah terjadi. Saya harap setidaknya hal ini dapat memastikan adanya kesetaraan di masa depan,” harapnya.

Pochettino juga mengingatkan kembali pada situasi yang pernah terjadi pada Chelsea saat ia masih melatih Tottenham dan bersaing memperebutkan gelar. “Saya pernah mengatakannya saat itu mengenai situasi Chelsea, ketika kami bersaing memperebutkan gelar bersama mereka saat saya masih di Tottenham, bahwa mereka lebih baik karena meraih lebih banyak poin, tetapi dengan melanggar aturan. Bagaimana cara memperbaikinya?” tanyanya.

Tinggalkan komentar