Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, melancarkan sindiran keras terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Dalam sebuah pidato, Ceferin menggunakan kisah klasik “Baju Baru Sang Kaisar” untuk mengkritik situasi tata kelola sepak bola dunia.
Pidato tersebut disampaikan Ceferin dalam European Football Clubs (EFC) General Assembly di Kopenhagen pada Selasa (29/9). Meskipun tidak menyebut nama Infantino secara eksplisit, kritiknya mengarah pada proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang telah dibatalkan dan berbagai kontroversi seputar manajemen FIFA.
Proposal FFE tadinya bertujuan untuk membentuk sebuah entitas komersial yang akan mengelola hak komersial atas beberapa kompetisi besar, termasuk Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, dan Piala Dunia Antarklub. Melalui entitas ini, FIFA berencana memberikan kesempatan bagi investor swasta untuk memiliki hingga 20 persen saham.
Rencana ini menuai penolakan keras dari berbagai pihak sebelum akhirnya ditarik oleh FIFA. UEFA sendiri terus menyuarakan kritik terhadap proses pengambilan keputusan FIFA, terutama terkait aspek transparansi dan minimnya konsultasi dengan federasi anggota.
Ceferin: ‘Kaisar Telanjang’
Dalam pidatonya, Ceferin mengaitkan situasi tersebut dengan dongeng “The Emperor’s New Clothes” karya Hans Christian Andersen. Ia mengutip, “Hampir 200 tahun lalu, dia menulis Baju Baru Sang Kaisar. Kita semua tahu ceritanya. Seorang kaisar diyakinkan bahwa dirinya mengenakan pakaian yang sangat indah, pakaian yang katanya hanya tidak bisa dilihat oleh orang bodoh atau tidak cakap.”
“Para pengikutnya ikut membenarkan sampai seorang anak akhirnya mengatakan dengan lantang apa yang bisa dilihat semua orang. Kaisar itu telanjang,” lanjut Ceferin, menyindir bagaimana kebenaran seringkali diabaikan demi kepentingan tertentu.
Ceferin kemudian mengkritik cara FIFA dalam menjelaskan kebijakan-kebijakannya. Menurutnya, penggunaan istilah yang terdengar positif tidak serta-merta menjadikan sebuah keputusan menjadi transparan atau demokratis. “Barangkali pesan moral dari cerita ini adalah kata-kata yang nyaman tidak dapat mengubah kenyataan yang tidak nyaman.”
Ia menambahkan, “Sepakbola dunia belakangan ini mendengar banyak kata yang sangat nyaman. Pengembangan, demokratisasi, konsultasi, kata-kata yang pada kenyataannya digunakan untuk menggambarkan hal sebaliknya.”
“Menjual sebagian masa depan sepakbola tidak menjadi pengembangan hanya karena Anda menyebutnya sebagai pengembangan. Menempatkan keputusan yang sudah jadi di depan asosiasi nasional tidak menjadi demokratisasi hanya karena Anda menyebutnya demokratisasi, sebesar apa pun ceknya. Dan kerahasiaan tidak menjadi konsultasi hanya karena Anda menyebutnya konsultasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ceferin mengajak para petinggi klub untuk membayangkan jika seorang pejabat senior secara diam-diam menegosiasikan pelepasan kendali atas aset paling berharga klub tanpa persetujuan dewan, pemain, maupun suporter. Ia mempertanyakan berapa kali situasi serupa harus terjadi sebelum sebuah klub memutuskan untuk berkata, “cukup”.
“Kalau begitu, teman-teman, saya pikir sudah waktunya untuk mengatakan cukup. Sepakbola tidak membutuhkan kaisar dan tidak punya tempat bagi para pengikutnya. Mereka yang mengelola olahraga ini datang dan pergi. Kami adalah penjaga, bukan pemilik. Sepakbola bukan untuk dijual. Tidak hari ini. Tidak besok. Tidak akan pernah,” pungkas Ceferin.