Rupiah Diprediksi Bergejolak, Pelemahan Bisa Terulang di Awal Oktober

Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi akan bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026. Pergerakan ini merupakan kelanjutan dari tren yang terjadi sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Rabu sore (30/9/2026), rupiah tercatat menguat 87 poin atau 0,48% ke level Rp 17.894 per dolar AS. Penguatan ini sedikit memperbaiki posisi dari penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.981 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Sutanto, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan mengalami volatilitas pada perdagangan berikutnya, dengan kecenderungan untuk melemah. Rentang pergerakan yang diprediksi berada di antara Rp 17.890 hingga Rp 18.940 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa volatilitas rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Salah satunya adalah konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini turut memicu kenaikan harga minyak dunia yang stabil tinggi, sehingga menempatkan posisi fiskal Indonesia menjadi lebih rentan terhadap guncangan ekonomi global.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah berupaya untuk mencapai perdamaian melalui mediasi yang dilakukan oleh Qatar.

Dari sisi kebijakan moneter Amerika Serikat, Presiden The Fed New York, John Williams, menyuarakan kehati-hatian terkait kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Berbeda dengan Gubernur The Fed Barr yang menunjukkan sikap lebih tegas, menekankan perlunya kalibrasi ulang kebijakan serta potensi kenaikan suku bunga tambahan.

Di dalam negeri, Bank Indonesia telah membeberkan tiga instrumen utama yang digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pekan ini, rupiah sempat mengalami pelemahan hingga menyentuh angka Rp 18.000 per dolar AS. Ketiga instrumen tersebut meliputi kebijakan operasional pada instrumen spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Non Deliverable Forward (NDF).

Menanggapi kondisi ketidakpastian global yang masih tinggi, Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dirancang dengan prinsip kehati-hatian dan kredibilitas. Pendapatan negara tercatat masih menunjukkan pertumbuhan positif, mencapai Rp 2.055,6 triliun atau setara dengan 65,2% dari target APBN. Angka ini mengindikasikan bahwa APBN tetap berfungsi sebagai instrumen penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Tinggalkan komentar