GROBOGAN, Polres Grobogan menggelar kegiatan pembina upacara bendera secara serentak di 42 sekolah yang tersebar di seluruh Kabupaten Grobogan. Aksi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mendalam kepada para pelajar, khususnya Generasi Z, mengenai pentingnya menjaga etika pergaulan di era digital dan bahaya perundungan (bullying).
Kapolres Grobogan AKBP Endhie Pratama memimpin langsung upacara di SMA N 1 Purwodadi. Sementara itu, Wakapolres Grobogan Kompol Muhammad Fadhlan bertindak sebagai pembina upacara di SMK N 2 Purwodadi. Sembilan pejabat Polres lainnya juga ditugaskan menjadi pembina upacara di sembilan sekolah di Kecamatan Purwodadi. Polsek jajaran Polres Grobogan turut serta dalam gerakan serentak ini, menempatkan Kapolsek atau personel yang ditunjuk di sekolah-sekolah wilayah hukum masing-masing.
Dalam amanatnya di SMA N 1 Purwodadi, AKBP Endhie Pratama menekankan pentingnya menjaga diri, membangun karakter positif, serta memanfaatkan perkembangan teknologi secara bertanggung jawab. Ia secara khusus menyoroti isu bullying, baik yang terjadi secara langsung maupun melalui media sosial. Para siswa diingatkan agar tidak menjadikan perbedaan fisik, latar belakang keluarga, atau kekurangan lainnya sebagai alasan untuk merendahkan atau menghina teman.
“Apabila mengetahui adanya tindakan bullying, segera sampaikan kepada guru, wali kelas, orang tua, atau pihak yang dapat memberikan pertolongan. Jangan ikut menertawakan, merekam, menyebarkan atau memberikan dukungan terhadap tindakan tersebut,” tegas AKBP Endhie.
Selain itu, AKBP Endhie juga mengingatkan para pelajar untuk menjauhi berbagai bentuk kenakalan remaja seperti tawuran, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, perjudian daring, minuman keras, balap liar, dan pelanggaran lalu lintas. Ia berpesan agar siswa tidak mudah terpengaruh ajakan negatif demi popularitas atau pengakuan.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), juga menjadi fokus perhatian. Teknologi dan media sosial dapat menjadi sarana belajar dan berkarya, namun memiliki risiko jika digunakan tanpa etika. “Jadilah generasi yang cerdas digital. Ingat selalu prinsip saring sebelum sharing dan gunakan teknologi untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. Jangan sampai teknologi justru digunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan penipuan daring maupun membuat dan menyebarkan foto atau video palsu tanpa izin,” jelas Kapolres.
Pesan lain yang disampaikan adalah pencegahan kekerasan berbasis gender. Para pelajar diedukasi agar tidak melakukan atau mendukung tindakan kekerasan, pelecehan, intimidasi, pemaksaan, ucapan merendahkan, serta penyebaran foto atau video pribadi tanpa izin, termasuk konten yang dibuat atau diedit menggunakan AI. Jika menemukan teman yang menjadi korban, siswa diimbau untuk tidak menyalahkan korban, melainkan memberikan dukungan dan membantu melaporkan kejadian tersebut.
Mengakhiri amanatnya, AKBP Endhie mengutip pesan filsuf Yunani Aristoteles, “pendidikan memiliki akar yang pahit, tetapi buahnya manis.” Pesan ini mengingatkan bahwa belajar membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, dan kerja keras untuk meraih masa depan.
“Kepada seluruh siswa, tingkatkan kedisiplinan, hormati guru dan orang tua, sayangi teman, belajar dengan sungguh-sungguh serta jaga nama baik diri sendiri, keluarga dan sekolah, baik di dunia nyata maupun dunia maya,” pungkasnya.