Harga Bitcoin (BTC) terpantau melemah pada perdagangan Selasa (29/9/2026) pagi. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi jangka panjang Amerika Serikat (AS) disebut menjadi salah satu faktor penghambat upaya pemulihan aset kripto terbesar tersebut.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.40 WIB, harga Bitcoin tercatat turun 0,98% menjadi US$ 83.547 per koin. Angka ini setara dengan sekitar Rp 1,5 miliar, dengan asumsi kurs Rp 17.999 per dolar AS.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global juga mengalami penurunan sebesar 1,07% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,86 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar, terpangkas 1,03%. Di sisi lain, Ethereum (ETH) mencatat kenaikan tipis 0,17% ke level US$ 2.689, sementara Binance Coin (BNB) ambles 1,87% menjadi US$ 763.
Dikutip dari Pluang, pemulihan Bitcoin menghadapi tantangan signifikan dari kenaikan yield obligasi jangka panjang AS. Hal ini terjadi setelah The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), membawa kisaran suku bunga ke level 3,75%-4%.
Kenaikan yield pada obligasi AS tenor 10 tahun dan 30 tahun membuat instrumen investasi berbunga menjadi lebih menarik jika dibandingkan dengan Bitcoin, yang tidak menawarkan imbal hasil tetap.
Kondisi ini menyebabkan minat beli terhadap Bitcoin tetap ada, namun cenderung berkurang seiring dengan kenaikan yield obligasi. Pergerakan pasar obligasi dinilai memberikan tekanan yang lebih kompleks terhadap Bitcoin dibandingkan hanya dengan keputusan suku bunga The Fed.
Pemulihan BTC Terhambat
Kenaikan yield obligasi dalam beberapa waktu terakhir berpotensi memperlambat laju pemulihan Bitcoin. Namun, kondisi ini belum secara definitif menunjukkan adanya pembalikan arah tren Bitcoin secara keseluruhan.
Selain faktor yield obligasi, sentimen pasar Bitcoin juga dipengaruhi oleh perkembangan regulasi aset kripto di AS. Penolakan Senat terhadap langkah maju CLARITY Act menambah ketidakpastian dalam lanskap regulasi.
Kombinasi antara kenaikan yield obligasi AS dan ketidakpastian regulasi tersebut membuat ruang gerak pemulihan Bitcoin menjadi semakin menantang.