Harga emas dunia menjadi sorotan setelah mengalami penurunan tajam pada Senin (28/9/2026). Meskipun demikian, tren bullish jangka panjang emas dinilai masih bertahan, meskipun tekanan jual dalam jangka pendek belum sepenuhnya mereda.
Saat berita ditulis, harga emas hari ini tercatat naik 0,26% ke level US$ 4.125,13 per ons troi. Pada perdagangan Senin (28/9/2026), harga emas spot ditutup ambles 3,98% menjadi US$ 4.115 per ons troi.
Market Analyst StoneX Fawad Razaqzada mengamati area US$4.100-4.165 per ons troi sebagai zona penting yang akan menentukan arah pergerakan emas berikutnya. Jika emas mampu bertahan dan memantul dari area tersebut, diperlukan sinyal pembalikan bullish untuk mengonfirmasi pembentukan titik terendah.
“Tren jangka panjang emas masih bullish, sehingga aksi jual terbaru tidak seharusnya dianggap sebagai perubahan struktur tren makro,” ujar Razaqzada dalam analisisnya.
Razaqzada melihat emas saat ini menghadapi resistance di kisaran US$ 4.250-4.325 per ons troi. Area ini sebelumnya berfungsi sebagai support dan kini berpotensi berubah menjadi resistance.
Apabila emas berhasil menembus area tersebut, level US$ 4.400 per ons troi menjadi target penting berikutnya. Razaqzada menilai emas perlu kembali merebut level US$ 4.400 per ons troi dengan cepat untuk memperkuat prospek bullish dalam jangka pendek.
“Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat, emas berpotensi menguji level US$ 4.000 per ons troi dalam beberapa hari ke depan,” papar Razaqzada.
Lebih lanjut, Razaqzada menyatakan bahwa penurunan tegas di bawah US$ 3.942 per ons troi, yang merupakan level terendah musim panas, akan menjadi sinyal yang lebih negatif. Kondisi tersebut dapat memperlemah prospek jangka panjang emas dan membuka ruang menuju US$ 3.500 per ons troi.
Dolar AS Menjadi Penghalang
Penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi masih menjadi hambatan utama bagi emas. Keputusan The Fed yang cenderung hawkish pada September, ditambah pengetatan moneter oleh European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ), telah memperkuat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
“Kondisi tersebut mendorong dolar AS menguat dan yield obligasi meningkat. Kenaikan yield membuat emas kurang menarik karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil,” jelasnya.
Razaqzada menambahkan, harga minyak yang tinggi juga menjadi faktor penting karena dapat menjaga tekanan inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Namun, arah dolar AS dapat berubah jika terjadi terobosan diplomatik antara Washington dan Teheran, terutama jika kesepakatan tersebut memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Jika harga minyak turun, tekanan inflasi berpotensi mereda dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat berkurang. Kondisi tersebut bisa melemahkan dolar AS dan menjadi katalis positif bagi emas,” tambahnya.
Selain faktor dolar, pembelian bank sentral masih menjadi salah satu penopang emas. Mengutip World Gold Council (WGC), bank sentral membeli 23 ton emas pada Juli, dengan China dan Polandia menjadi pembeli utama.
Pembelian yang dilaporkan sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini mencapai sekitar 130 ton. Meski lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025, angka tersebut menunjukkan harga emas yang tinggi belum menghentikan permintaan dari bank sentral.
Razaqzada menilai kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dan eksposur terhadap obligasi AS dapat mendorong diversifikasi lebih lanjut ke emas. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang penurunan harga emas hingga akhir tahun.