Lonjakan Harga Batu Bara Picu Kekhawatiran Pasokan di China

Harga batu bara tercatat melesat pada perdagangan Rabu (30/9/2026), seiring dengan semakin menipisnya pasokan batu bara termal di China. Kenaikan harga terpantau pada batu bara Newcastle dan Rotterdam, sementara harga komoditas energi ini di pasar domestik China telah menguat selama 11 pekan berturut-turut.

Data perdagangan menunjukkan harga batu bara Newcastle untuk kontrak Oktober 2026 melonjak US$ 1,3 menjadi US$ 146,5 per ton. Kontrak November 2026 naik US$ 0,8 ke level US$ 147,2 per ton, dan kontrak Desember 2026 meningkat US$ 0,7 menjadi US$ 148,45 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Oktober 2026 terbang US$ 4,95 ke level US$ 142,25 per ton. Kontrak November 2026 melonjak US$ 4,7 menjadi US$ 141,4 per ton, dan kontrak Desember 2026 naik US$ 3,95 menjadi US$ 140,4 per ton.

Menurut laporan Oilprice, harga batu bara termal China telah mengalami kenaikan selama 11 minggu berturut-turut, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Harga batu bara termal spot di Qinhuangdao, salah satu acuan pasar China, menyentuh angka 986 yuan atau sekitar US$ 147 per ton pada pekan yang berakhir Senin (28/9/2026).

Angka tersebut menunjukkan lonjakan sekitar 24% sejak pertengahan Juli. Kenaikan ini terjadi di tengah penurunan produksi batu bara domestik China dan berkurangnya volume impor dari Indonesia, yang merupakan salah satu pemasok utama bagi Negeri Tirai Bambu.

China masih sangat bergantung pada batu bara untuk memenuhi hampir 50% kebutuhan listriknya. Oleh karena itu, ketersediaan pasokan menjadi krusial menjelang musim dingin, periode ketika permintaan listrik biasanya meningkat tajam.

Kenaikan harga batu bara di China mulai terlihat sejak akhir musim semi. Insiden kecelakaan tambang besar pada bulan Mei mendorong pemerintah untuk memperketat pemeriksaan keselamatan, yang berujung pada penghentian aktivitas di sejumlah tambang di Shanxi, salah satu wilayah produsen batu bara utama.

Impor dari Indonesia Menurun

Di sisi lain, pasokan dari Indonesia juga mengalami penyusutan. Data menunjukkan bahwa impor batu bara China dari Indonesia sepanjang tahun berjalan mengalami penurunan sekitar seperempat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Penurunan volume impor ini terjadi setelah pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk memangkas kuota produksi sejumlah perusahaan tambang. Faktor cuaca juga turut menghambat distribusi; fenomena El Niño menyebabkan penurunan curah hujan dan permukaan air sungai, yang berdampak pada kelancaran pergerakan tongkang menuju pelabuhan ekspor.

Dalam kondisi pasokan yang semakin mengetat, pemerintah China sebelumnya telah mengimbau perusahaan tambang domestik untuk menjaga stabilitas produksi, terutama setelah lonjakan harga batu bara spot. Pemerintah juga mendorong peningkatan produksi menjelang musim dingin guna memastikan pasokan listrik tetap terjaga.

Situasi ini menjadi katalis penting bagi pasar batu bara global. Pergerakan harga di pasar Newcastle dan Rotterdam mengindikasikan bahwa pasar masih mendapatkan dukungan dari ketatnya pasokan. Sementara itu, perkembangan produksi di China, kebijakan kuota produksi di Indonesia, serta kebutuhan energi menjelang musim dingin akan menjadi faktor penentu arah pergerakan harga batu bara di masa mendatang.

Tinggalkan komentar