Laba Bersih Gudang Garam Melonjak 2.440%, Saham GGRM Diproyeksi Naik 27%

JAKARTA – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan kinerja profitabilitas yang impresif pada paruh pertama tahun 2026. Perusahaan mencatat peningkatan signifikan pada laba usaha hingga laba bersih, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan harga sahamnya.

Menurut riset Phintraco Sekuritas, laba kotor GGRM melonjak 58% menjadi Rp5,99 triliun pada semester I-2026. Pertumbuhan ini didukung oleh penurunan beban pendapatan sebesar 13% menjadi Rp35,19 triliun. Penurunan biaya, terutama pada pita cukai, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan pajak rokok yang terkoreksi 14%, berhasil menopang ekspansi margin meskipun pendapatan perusahaan mengalami penurunan.

Secara operasional, laba usaha GGRM mengalami peningkatan luar biasa sebesar 659,6% hingga mencapai Rp3,9 triliun per Juni 2026. Perbaikan ini didorong oleh penurunan beban usaha sebesar 33,9% dan peningkatan pendapatan lain-lain sebesar 28,5%. Peningkatan profitabilitas ini kemudian terefleksikan pada laba bersih yang melonjak 2.440% menjadi Rp2,98 triliun.

“Meski demikian, secara kuartalan, pertumbuhan laba mulai menunjukkan normalisasi, dengan laba bersih turun 6,5% menjadi pada kuartal II lalu dari Rp1.54 triliun pada kuartal sebelumnya,” tulis Phintraco Sekuritas dalam laporannya.

Kinerja Penjualan dan Harga Wajar

Sementara itu, volume penjualan GGRM pada semester I-2026 tercatat sebanyak 20,5 miliar batang, mengalami penurunan 13,6%. Mayoritas volume penjualan berasal dari segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM) Harga Tembakau (HT) sebanyak 17,4 miliar batang atau 85,2% dari total produksi. Segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) & Sigaret Kretek Lintas (SKL) menyumbang 3 miliar batang, dan SKM Lintas Tembakau (LT) sebanyak 0,09 miliar batang. Penurunan volume penjualan ini berimplikasi pada penurunan pendapatan penjualan sebesar 7,2%.

Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham GGRM dengan menetapkan harga wajar sebesar Rp22.000. Angka ini merepresentasikan potensi keuntungan sebesar 27% dari harga saham saat riset tersebut diterbitkan.

Risiko utama yang dihadapi saham GGRM meliputi keberlanjutan penjualan rokok ilegal, melemahnya daya beli masyarakat, serta ketidakpastian kebijakan tarif cukai rokok.

Tinggalkan komentar