JAKARTA – Kiwoom Sekuritas Indonesia melakukan perombakan pada komposisi saham pilihan mereka untuk periode hingga akhir 2026. Empat saham baru yang masuk dalam daftar ini adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Perubahan ini merupakan bagian dari pembaruan riset Market Outlook Semester II-2026. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa PTBA menggantikan MTEL, ASII menggantikan PANI, BMRI menggantikan BBNI, sementara WIFI menggantikan KLBF.
“Kami kini memusatkan pilihan pada bank besar dengan likuiditas kuat, komoditas yang memiliki katalis volume dan harga jual rata-rata (ASP), infrastruktur digital, serta saham defensif dengan valuasi diskon,” ujar Liza dalam risetnya.
Saham BMRI mendapatkan rekomendasi ‘buy’ dengan target harga Rp 4.500. Kiwoom menyoroti pertumbuhan segmen wholesale yang kuat, laba yang resilien, pendapatan berbasis komisi berulang, serta permodalan yang solid di tengah tekanan margin bunga bersih (NIM).
ASII juga direkomendasikan ‘buy’ dengan target Rp 6.400. Valuasinya dinilai menarik dan statusnya sebagai saham unggulan dengan rekam jejak panjang menjadi penopang, meskipun kondisi operasional masih menghadapi tantangan.
PTBA memiliki target harga Rp 3.320 dengan rekomendasi ‘buy’. Katalis utamanya berasal dari pemulihan volume serta ekspansi logistik, termasuk operasi Tanjung Enim–Kramasan berkapasitas 20 juta ton per tahun pada semester II-2026 dan peningkatan kapasitas Kertapati menjadi 15,3 juta ton per tahun.
Sementara itu, WIFI mendapat target harga Rp 2.400 dengan rekomendasi ‘buy’. Pendorong pertumbuhannya meliputi ekspansi fiber to the home (FTTH) dan fixed wireless access (FWA), pertumbuhan pelanggan, utilisasi jaringan, serta agentic artificial intelligence. Risiko utamanya terletak pada eksekusi, belanja modal, biaya akuisisi pelanggan, dan take-up rate.
Lima Saham Dipertahankan
Kiwoom Sekuritas mempertahankan lima saham dari daftar sebelumnya. BBRI dipertahankan dengan target harga Rp 3.600, didukung oleh katalis seperti pembelian kembali saham, bisnis UMKM, dana murah (current account saving account/CASA), permodalan kuat, serta panduan pertumbuhan kredit 2026 sebesar 8–10%.
INCO juga dipertahankan dengan target harga Rp 6.300, didukung oleh harga nikel global yang resilien dan penyelesaian smelter high pressure acid leach (HPAL) Morowali serta Pomalaa pada tahun ini.
ANTM dipatok target harga Rp 4.100, ditopang oleh ASP emas, nikel, dan bauksit yang lebih kuat pada kuartal I-2026. Emas tetap menjadi motor utama laba emiten ini.
JSMR memiliki target harga Rp 3.800 karena valuasinya berada di bawah rata-rata historis berdasarkan price to book value (PBV) dan EV/EBITDA, disertai fundamental defensif dan arus kas yang stabil.
Terakhir, JPFA memperoleh target harga Rp 3.140. Kiwoom melihat pertumbuhan volume dan perbaikan margin, stabilisasi harga ayam hidup (live bird), serta dampak impor bungkil sebagai faktor utama yang memengaruhi prospek emiten tersebut.
Secara keseluruhan, rekomendasi untuk saham BBRI, INCO, ANTM, JSMR, dan JPFA adalah ‘buy’.