Ekspor Aluminium Indonesia Meroket 206%, Lampaui Pertumbuhan Besi dan Baja

JAKARTA – Kinerja ekspor produk aluminium Indonesia mencatat lonjakan tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, nilai ekspor aluminium dan barang daripadanya dengan kode HS76 pada Agustus 2026 tumbuh 206,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekspor produk besi dan baja.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa pertumbuhan sebesar 206,78% tersebut spesifik untuk komoditas aluminium dan barang turunannya, bukan besi dan baja. Klarifikasi ini disampaikan Ateng saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, pada Kamis (01/10/2026).

“Untuk yang 206,78% tadi itu bukan besi dan baja, tetapi aluminium dan barang daripadanya, HS76,” ujar Ateng. Sementara itu, ia menambahkan, ekspor kelompok besi dan baja (HS72) pada Agustus 2026 tercatat tumbuh 20,38% dibandingkan Agustus 2025.

Perbedaan kinerja yang signifikan ini menunjukkan bahwa ekspor produk berbasis logam masih menjadi salah satu penopang utama perdagangan Indonesia. Namun, perkembangan antara aluminium dan besi-baja menunjukkan tren yang cukup berbeda, terutama jika melihat besarnya lonjakan pertumbuhan ekspor aluminium pada bulan Agustus.

Untuk kelompok besi dan baja, BPS mencatat bahwa China masih menjadi pasar ekspor terbesar bagi produk Indonesia. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, nilai ekspor besi dan baja ke Negeri Tirai Bambu mencapai sekitar US$12,5 miliar. Posisi selanjutnya ditempati oleh Taiwan dengan nilai ekspor sekitar US$1,2 miliar, disusul oleh Vietnam sebesar US$1,1 miliar. Ketiga negara tersebut menjadi tujuan utama ekspor besi dan baja Indonesia selama delapan bulan pertama tahun ini.

Secara keseluruhan, ekspor Indonesia pada Agustus 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif. Nilai ekspor tumbuh sebesar 6,72% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 6,05% pada Juli. Sektor ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 7,23%, meskipun ekspor migas mengalami kontraksi sebesar 5,10%.

Jika dilihat secara bulanan, ekspor juga menunjukkan peningkatan sebesar 1,51% (month-to-month/mtm). Selain produk logam, kenaikan ini juga ditopang oleh ekspor minyak kelapa sawit (CPO) yang tumbuh 15,51%, serta peningkatan ekspor logam mulia sebesar 56,69%. Di sisi lain, ekspor batu bara dan mesin serta peralatan listrik mengalami kontraksi.

Kinerja ekspor yang tetap positif ini turut menopang neraca perdagangan Indonesia. Pada Agustus 2026, Indonesia berhasil membukukan surplus perdagangan sebesar US$3,55 miliar, yang merupakan pelebaran tajam dibandingkan surplus US$121,9 juta pada Juli. Pelebaran surplus ini juga dipengaruhi oleh penurunan impor yang cukup dalam.

Meskipun demikian, secara kumulatif, surplus perdagangan Indonesia pada periode Januari–Agustus 2026 tercatat hanya sebesar US$7,25 miliar. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan surplus US$29,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa lonjakan ekspor sejumlah komoditas, termasuk aluminium, terjadi di tengah tekanan yang lebih besar terhadap kinerja perdagangan Indonesia sepanjang tahun ini.

Tinggalkan komentar