Kemandirian Pangan di Sambas: Lahan Tandus Disulap Jadi Kebun Sayur Berkat TEP UI

JAKARTA – Masyarakat Desa Sebunga, Kawasan Transmigrasi Gerbang Mas Perkasa, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, kini menikmati penghematan biaya belanja harian dan kemandirian pangan keluarga. Perubahan ini terwujud setelah pekarangan rumah yang sebelumnya tandus dan berbatu berhasil diubah menjadi kebun sayur melalui program gotong royong bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI).

Salah satu warga, Ana Sofia, yang memiliki pekarangan percontohan, mengungkapkan kegembiraannya atas program yang memberikan kegiatan produktif bagi para ibu rumah tangga. “Kami senang dengan adanya Tim Ekspedisi Patriot, ibu-ibu di sini jadi ada kegiatan yang produktif. Hasil sayurannya nanti bisa untuk makan sehari-hari, tidak perlu membeli. Kalau membeli sayuran dari Sambas itu jauh, butuh dua jam perjalanan,” ujarnya.

Kendala utama yang dihadapi warga transmigrasi sebelumnya adalah kondisi fisik lahan. Warga lainnya, Ola, menjelaskan bahwa tanah di kawasan tersebut kering, berbatu, dan minim air. “Bukannya kami tidak mau menanam sayur, tetapi susah karena tanaman gampang mati,” tuturnya.

Menjawab tantangan tersebut, TEP UI menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada Sabtu, 29 Agustus. Diskusi ini menghasilkan penentuan lokasi dan pemilihan 10 komoditas utama, termasuk timun, cabai, tomat, dan tanaman obat keluarga. Proses pengolahan lahan dilakukan secara bertahap, mulai dari penggemburan tanah menggunakan traktor tangan bantuan Kapolsek Sajingan Besar, pemberian kapur dolomit, hingga pengayaan nutrisi tanah dengan limbah sawit dan pupuk organik.

Perwakilan TEP UI, Rahayu, berharap program optimalisasi pekarangan berbasis konsep Integrated Farming ini dapat berlanjut secara mandiri oleh masyarakat setempat. “Optimalisasi pekarangan ini merupakan bagian dari konsep Integrated Farming. Kami berharap, dengan adanya local champion dan kesepakatan sosial, program ini terus berjalan berkelanjutan secara mandiri,” kata Rahayu.

Upaya kemandirian pangan di daerah transmigrasi ini sejalan dengan kebijakan prioritas pemerintah pusat. Presiden RI Prabowo Subianto menekankan pentingnya swasembada pangan di tengah ketidakpastian global. “Di tengah dunia sekarang, dunia yang penuh dengan konflik, bahkan dengan perang-perang di mana-mana, kita harus swasembada pangan, kita harus swasembada energi. Kita tidak boleh bergantung dengan bangsa lain,” ujar Prabowo.

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menambahkan agar para Patriot dapat memetakan masalah masyarakat dan mencarikan solusi terbaik untuk memajukan ekonomi warga. “Karena permasalahan itu pada akhirnya konteksnya lokal. Jadi kita boleh berpikir besar, sering kita menggunakan istilah think globally but act locally. Pada akhirnya lokal,” kata AHY.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut menyampaikan pesan mengenai pentingnya manfaat yang berkelanjutan. “Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan kesejahteraan tumbuh di kawasan tersebut,” ujarnya.

Tinggalkan komentar