Harga emas dunia menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (1/10/2026), didorong oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. Perlambatan inflasi ini mengurangi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan Oktober.
Harga emas spot tercatat naik 0,48% dan ditutup pada level US$ 4.177,25 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga mencatat kenaikan 0,12% menjadi US$ 4.207,55 per ons troi. Meskipun mengalami penguatan hari ini, harga emas dunia secara keseluruhan tercatat anjlok lebih dari 6% sepanjang bulan September.
Data yang dirilis pada Rabu (30/9/2026) menunjukkan bahwa inflasi di AS pada bulan Agustus tumbuh lebih rendah dari prediksi para analis. Tekanan harga pada bulan sebelumnya juga telah direvisi turun.
Perubahan data inflasi ini berdampak langsung pada proyeksi pasar mengenai kebijakan moneter The Fed. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober turun menjadi 31%, sebuah penurunan signifikan dari 45% sebelum rilis data dan 69% pada sepekan sebelumnya.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih rendah telah memberikan dukungan bagi pasar logam mulia,” ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.
Namun, laju kenaikan harga emas masih dibayangi oleh imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kenaikan yield ini secara inheren meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Penguatan dolar AS turut menjadi faktor pembatas kenaikan harga emas. Mata uang yang lebih kuat membuat komoditas yang dihargai dalam dolar, termasuk emas, menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional.
Di sisi lain, harga minyak mentah juga menunjukkan kenaikan setelah China menghentikan sementara ekspor produk minyak. Situasi ini berpotensi menyebabkan pengetatan pasokan bahan bakar global dan kembali memicu kekhawatiran tentang inflasi.
Meger menambahkan bahwa kenaikan harga energi yang signifikan atau eskalasi konflik di Timur Tengah dapat kembali meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed dan berpotensi menekan sentimen positif terhadap emas.
Menanti Data Ketenagakerjaan AS
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS, yang dikenal sebagai nonfarm payrolls, yang dijadwalkan rilis pada Jumat (2/10/2026). Data ini dianggap sebagai salah satu indikator kunci yang akan memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Senior Market Analyst XM Trading, Achilleas Georgolopoulos, berpendapat bahwa selera risiko pasar yang melemah dan penurunan taruhan pada kenaikan suku bunga The Fed telah membantu emas. Namun, ia mengingatkan bahwa tren jangka pendek untuk emas masih cenderung bearish.
“Pengujian kembali level US$ 4.000 per ons troi masih sangat mungkin terjadi, terutama jika laporan nonfarm payrolls besok memberikan kejutan dengan hasil yang lebih kuat dari perkiraan,” kata Georgolopoulos.
Sementara itu, lembaga riset HSBC telah melakukan penyesuaian terhadap proyeksi harga emas. HSBC memangkas rata-rata proyeksi harga emas untuk tahun 2026 dan 2027 menjadi masing-masing US$ 4.490 per ons troi dan US$ 4.825 per ons troi.
HSBC menilai bahwa emas masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek, namun harga komoditas ini diperkirakan mulai mendekati titik terendahnya. Bank tersebut juga mengantisipasi bank sentral akan kembali meningkatkan pembelian emas ketika harga mengalami penurunan, khususnya jika mendekati atau berada di bawah level US$ 4.000 per ons troi.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot mencatat lonjakan signifikan sebesar 0,93% dan ditutup pada US$ 60,99 per ons. Platinum juga menguat 0,58% menjadi US$ 1.727,3 per ons. Berbeda dengan yang lain, paladium justru mengalami penurunan tajam sebesar 1,82% dan ditutup pada US$ 1.184,75 per ons.