Indonesia Percepat Transisi 5G dengan Alokasi Frekuensi Baru

Tahun 2026 menjadi penanda penting bagi industri telekomunikasi Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah menggelar lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, yang diharapkan menjadi amunisi baru bagi operator seluler untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kapasitas jaringan.

Frekuensi 700 MHz didorong untuk dimanfaatkan dalam memperluas cakupan 4G sekaligus menutup wilayah yang masih mengalami ‘blank spot’ atau area tanpa sinyal di daerah pelosok. Sementara itu, frekuensi 2,6 GHz ditujukan untuk mengakselerasi penetrasi 5G, dengan tujuan meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan.

Pemerintah mengklaim bahwa cakupan konektivitas saat ini telah mencapai lebih dari 90% populasi di Indonesia. Fokus pembangunan kini diarahkan tidak hanya pada perluasan cakupan, tetapi juga peningkatan kualitas layanan agar konektivitas memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.

“Capaiannya sekarang sudah hampir lebih dari 90% konektivitas itu sudah ter-cover, tapi kan tadi yang saya sampaikan, kita tidak hanya bicara tentang konektivitas itu sendiri, kita bicara bagaimana kualitasnya lebih baik,” ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo dalam keterangan persnya.

Angga Raka Prabowo menjelaskan, pemanfaatan frekuensi 700 MHz sangat penting bagi operator seluler untuk memperkuat cakupan layanan 4G dan menjangkau area yang belum terlayani. “Baru-baru ini kita baru merilis frekuensi 700 MHz dan 2.600 MHz, 700 MHz bagi teman-teman di operator seluler dan di lingkungan komunikasi sangat penting untuk coverage area, bagaimana 700 MHz digunakan untuk teknologi 4G untuk menutup semua daerah-daerah blank spot kita,” ungkapnya.

Frekuensi 2,6 GHz, lanjut Angga, menjadi batu loncatan untuk mendorong peningkatan kualitas layanan 5G. Diharapkan dalam tiga tahun ke depan, terjadi peningkatan kualitas dan perluasan jangkauan layanan 5G di Indonesia. “Harapannya 3 tahun ke depan kita melihat perkembangan teknologi 5G di Indonesia semakin besar, semakin baik terutama kualitas layanan kepada publik dan juga harga yang terjangkau tentunya,” tuturnya.

Adopsi 5G di Indonesia Masih Tertinggal

Laporan GSMA Mobile Economy Asia Pacific 2026 mencatat bahwa cakupan 5G di Indonesia hingga 2025 baru mencapai 10% dari total populasi. Adopsi 5G, yang diukur dari total koneksi seluler, pada tahun yang sama hanya sekitar 4%, masih tertinggal dibandingkan India yang sudah mencapai 35%.

GSMA memproyeksikan adopsi 5G di Indonesia akan meningkat menjadi sekitar 28% pada 2030, masih di bawah rata-rata Asia Pasifik sebesar 50%. Cakupan 5G diproyeksikan mencapai 32% dari total populasi pada 2030. Laporan Ericsson Mobility Report Juni 2026 menunjukkan penetrasi pelanggan 5G di Indonesia pada akhir 2025 mencapai 14%, dengan mayoritas (76%) masih menggunakan 4G LTE.

Namun, Ericsson memproyeksikan penetrasi 5G akan melonjak menjadi 56% dalam lima hingga enam tahun ke depan, dengan jumlah pengguna diproyeksikan mencapai 213 juta orang atau setara 59% dari total pelanggan seluler pada 2031.

Kebijakan Pemerintah untuk Percepat Implementasi 5G

Sekretaris Jenderal Kemkomdigi Ismail mengungkapkan, pemerintah terus berupaya menghadirkan kebijakan yang memberikan kepastian investasi bagi operator telekomunikasi untuk mempercepat implementasi ‘roadmap’ 5G. “Kami baru saja merilis spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Pemerintah harus hadir memberikan ruang agar investasi infrastruktur digital dapat tumbuh lebih cepat,” jelas Ismail dalam acara Digital Transformation Indonesia Conference and Expo (DTI-CX) 2026.

Strategi Operator Seluler Pasca-Lelang Frekuensi

Pasca-lelang frekuensi pada akhir Juli 2026, Telkomsel memperoleh alokasi frekuensi terbesar, yakni 100 MHz (2×10 MHz di 700 MHz dan 80 MHz di 2,6 GHz). PT Indosat Tbk dan XLSmart Telecom Sejahtera Tbk masing-masing mendapatkan 80 MHz.

Direktur Jaringan Telkomsel Indra Mardiatna menyatakan kesiapan Telkomsel untuk memastikan keamanan siber (‘cyber security’) dan keandalan jaringan bagi pelanggan 4G maupun 5G. “Jadi berkait keamanan jaringan, kemudian ketahanan jaringan, Telkomsel memastikan, ensure bahwa kita terus-menerus menerapkan beberapa hal, termasuk cyber security dan konektivitas yang andal kepada seluruh pelanggan kita,” kata Indra.

Telkomsel berkomitmen memperluas jangkauan sinyal hingga ke daerah pelosok dan mempercepat adopsi 5G, serta memenuhi kewajiban pembangunan jaringan di desa-desa yang ditetapkan regulator.

President Director & CEO Indosat Vikram Sinha menambahkan bahwa penambahan kapasitas jaringan akan memperkuat layanan 5G dan membuka peluang pengembangan layanan digital berbasis AI. “Tidak hanya di kota-kota, dengan memasukkannya ke dalam jaringan, ini akan membawanya ke desa-desa. Apa yang Anda lihat di Jakarta, akan Anda lihat di Jayapura,” ungkap Vikram.

XLSmart menargetkan penambahan jangkauan layanan 5G hingga ke 101 kota pada akhir tahun 2026, yang diproyeksikan menjangkau sekitar 50% cakupan 5G nasional. Perseroan meningkatkan ‘capitalized capex’ dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun untuk mendukung pengoperasian lebih dari 265 ribu BTS, perluasan layanan 5G, serta pemanfaatan spektrum frekuensi baru.

Hingga semester I-2026, layanan 5G XLSmart telah hadir di lebih dari 50 kota dengan sekitar 15 ribu BTS 5G, mencakup 23% populasi nasional. Direktur & Chief Technology Officer XLSmart Shurish Subbramaniam menyatakan, “Tanggal 5 Agustus kita diberikan permission untuk turn on the new spectrum. Dalam waktu tiga minggu, semuanya sudah on 5G site. Makanya, semua masyarakat Indonesia bisa merasakan pengalaman 5G lebih cepat lagi, the real 5G and blanket 5G,” katanya dalam agenda media gathering di Surabaya.

Tinggalkan komentar