Indonesia Jadi Kunci Pertumbuhan Shell Lubricants di Asia

Indonesia diposisikan sebagai salah satu pasar utama bagi pertumbuhan Shell Lubricants di kawasan Asia. Hal ini didorong oleh perkembangan pesat sektor industri dan transportasi, serta permintaan pelumas yang masih tinggi untuk kendaraan bermesin pembakaran internal.

Global Executive Vice President Shell Lubricants, Jason Wong, menyatakan bahwa Indonesia, bersama dengan China dan India, memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan. Berbeda dengan pasar yang lebih matang seperti Jepang dan Korea Selatan, Indonesia menawarkan ruang ekspansi yang lebih luas.

“Indonesia merupakan pasar yang sangat penting, terutama dari perspektif pertumbuhan,” ujar Jason dalam sebuah diskusi media di Jakarta. Bisnis Shell Lubricants sendiri terbagi dalam tiga segmen utama: otomotif konsumen, transportasi komersial, dan industri. Masing-masing segmen menunjukkan dinamika permintaan yang unik seiring dengan kemajuan teknologi dan aktivitas ekonomi.

Di Indonesia, sektor industri dinilai menjadi penopang utama permintaan pelumas dan grease. Produk-produk ini sangat vital untuk mendukung berbagai kegiatan, mulai dari konstruksi, pertambangan, manufaktur, hingga aktivitas industri lainnya.

Jason menambahkan bahwa sektor industri cenderung lebih tahan terhadap tren elektrifikasi dibandingkan dengan kendaraan penumpang. “Di sektor industri ada batas tertentu mengenai apa yang bisa dielektrifikasi. Karena itu, kami melihat sektor ini cukup resilien dan permintaan pelumas serta grease masih akan berkembang,” jelasnya.

President Director & Managing Director Lubricants Shell Indonesia, Andri Pratiwa, menggarisbawahi peran besar sektor sumber daya alam Indonesia, seperti pertambangan nikel, dalam menciptakan kebutuhan pelumas industri. Pelumas ini krusial untuk menjaga efisiensi peralatan dan mendukung kelancaran aktivitas produksi.

Untuk memperkuat pasokan domestik, Shell telah mengembangkan fasilitas produksi pelumas dan grease di Marunda. Pabrik grease tersebut memiliki kapasitas sekitar 12 kiloton dan terintegrasi dalam jaringan produksi global perusahaan. Produksi lokal ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor dan memperpendek rantai pasok.

“Dengan tidak bergantung pada impor, kami bisa melayani pelanggan sehari-hari dengan lebih mudah dan efisien,” ucap Jason. Meskipun ada peluang ekspansi lebih lanjut, prioritas utama perusahaan saat ini adalah memastikan kapasitas yang sudah dibangun dapat terserap sepenuhnya oleh pertumbuhan pasar domestik.

Di tingkat global, Jason mengakui bahwa pertumbuhan pasar pelumas tidak lagi secepat satu dekade lalu. Permintaan pelumas global saat ini cenderung stagnan atau hanya tumbuh sekitar 0–1% per tahun. Elektrifikasi kendaraan menjadi salah satu faktor perubahan pola permintaan. Namun, jumlah kendaraan bermesin pembakaran internal yang masih beroperasi secara masif memastikan kebutuhan pelumas tetap ada.

Oleh karena itu, strategi pertumbuhan Shell tidak lagi hanya mengandalkan ukuran pasar agregat, melainkan berfokus pada pemilihan negara dan segmen pasar yang masih memiliki prospek cerah. “Kami tidak bisa mengejar semuanya. Kami harus fokus pada sektor yang masih tumbuh dan mengarahkan sumber daya ke sana,” tegas Jason.

Selain kendaraan penumpang, aktivitas transportasi komersial juga menjadi pendorong penting. Pertumbuhan ekonomi yang positif secara alami akan meningkatkan pergerakan barang dan penggunaan truk, yang berdampak langsung pada kebutuhan pelumas.

Sebuah laporan terbaru dari Kline & Company, bertajuk Global Lubricants: Market Analysis and Assessment, menempatkan Shell sebagai pemasok pelumas terbesar secara global selama 20 tahun berturut-turut. Shell juga memimpin dalam kategori otomotif konsumen, otomotif komersial, dan industri.

Annie Jarquin, Vice President of Energy Kline & Company, menilai posisi dominan Shell ditopang oleh konsistensi, kemampuan adaptasi, dan jangkauan pasar global yang luas. Andri Pratiwa menambahkan bahwa Indonesia merupakan pasar strategis yang turut berkontribusi pada pertumbuhan Shell Lubricants, didukung oleh fasilitas produksi di Marunda serta permintaan yang solid dari sektor kendaraan, transportasi komersial, dan industri.

Tinggalkan komentar