JAKARTA – Keputusan Pemerintah India untuk memangkas tarif bea masuk minyak kelapa sawit mentah (CPO) dari 10% menjadi 5% diprediksi akan memberikan keuntungan bagi para produsen CPO di Indonesia. Kebijakan ini diperkirakan akan mendorong peningkatan permintaan CPO global, yang secara langsung berdampak positif pada saham-saham emiten produsen sawit berkapitalisasi besar.
Sentimen positif ini terutama akan dirasakan oleh perusahaan yang memiliki skala produksi CPO besar dan struktur biaya yang efisien. Kenaikan permintaan dan potensi penguatan harga CPO diharapkan dapat menopang pendapatan serta margin perusahaan, yang pada gilirannya akan memengaruhi pergerakan saham emiten sawit di pasar modal.
Menurut laporan Reuters pada Rabu (23/9/2026), India tidak hanya menurunkan bea masuk dasar CPO, tetapi juga minyak kedelai mentah menjadi 5% dari sebelumnya 10%. Sementara itu, bea masuk untuk produk olahannya, yaitu minyak sawit olahan dan minyak kedelai olahan, diturunkan menjadi 27,5% dari 32,5%.
Jika memperhitungkan pungutan tambahan seperti Agriculture Infrastructure and Development Cess serta Social Welfare Surcharge, total bea masuk untuk CPO dan minyak kedelai mentah kini menjadi 11%, turun dari sebelumnya 16,5%. India sendiri bergantung pada impor untuk memenuhi hampir dua pertiga kebutuhan minyak nabatinya. Pasokan utama minyak nabati India berasal dari minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari yang diimpor dari negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, Argentina, Rusia, dan Ukraina.
Bagi pasar minyak nabati global, langkah India ini merupakan perkembangan signifikan mengingat posisinya sebagai salah satu pengimpor minyak nabati terbesar di dunia. Peningkatan permintaan impor dari India berpotensi memberikan dorongan tambahan bagi pasar minyak sawit, termasuk CPO yang berasal dari Indonesia dan Malaysia.
“Penurunan bea masuk dasar CPO oleh Pemerintah India dari 10% menjadi 5% merupakan katalis positif bagi industri sawit Indonesia karena berpotensi meningkatkan daya beli dan impor minyak sawit India,” ujar Pengamat Pasar Modal dan Pendiri Republik Investor Hendra Wardana kepada Investor Daily, Kamis (24/9/2026).
Hendra menjelaskan bahwa India merupakan salah satu konsumen dan importir minyak nabati terbesar di dunia. Dengan penurunan tarif impor CPO, harga komoditas ini menjadi lebih kompetitif, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan dari negara tersebut. “Dampaknya bagi emiten sawit Indonesia adalah terbukanya peluang peningkatan volume penjualan sekaligus memberikan dukungan terhadap harga CPO global. Meski, perlu dicermati bahwa India juga menurunkan bea masuk minyak kedelai dan minyak bunga matahari, sehingga sebagian tambahan permintaan tidak otomatis seluruhnya mengalir ke CPO,” tutur dia.
Produsen Besar Berpotensi Diuntungkan
Lebih lanjut, Hendra menyatakan bahwa dampak positif paling besar secara fundamental akan dirasakan oleh perusahaan yang memiliki volume produksi CPO besar, biaya produksi yang kompetitif, serta fleksibilitas dalam penjualan ekspor maupun domestik. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) disebut sebagai salah satu emiten yang menarik dicermati karena skala produksinya yang besar serta peningkatan kinerja produksi dan penjualan produk turunan sawitnya.
Selain AALI, emiten lain seperti PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) juga berpotensi mendapatkan manfaat dari siklus harga CPO yang lebih kuat. Namun, besarnya manfaat yang diperoleh tetap akan bergantung pada volume produksi, komposisi penjualan, harga jual rata-rata, serta struktur biaya masing-masing emiten.
Dari sisi fundamental industri, Hendra melihat prospek CPO juga didukung oleh potensi gangguan pasokan akibat fenomena El Niño. Kondisi cuaca menjadi faktor krusial karena produksi sawit sangat sensitif terhadap curah hujan dan kondisi perkebunan. Jika kondisi kering berlangsung lebih lama, produktivitas kebun dan produksi CPO berpotensi menurun, yang dapat memperketat pasokan dan menopang harga CPO. Sebaliknya, jika cuaca membaik dan produksi kembali meningkat, kenaikan harga CPO dapat tertahan akibat melimpahnya pasokan.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah kebijakan biodiesel di Indonesia. Di satu sisi, peningkatan mandatori biodiesel menjadi katalis positif karena menyerap lebih banyak CPO di pasar domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor. Namun di sisi lain, semakin besar alokasi CPO untuk biodiesel berarti semakin kecil volume yang tersedia untuk pasar ekspor. Oleh karena itu, biodiesel dapat menjadi katalis positif dari sisi permintaan, tetapi sekaligus menjadi risiko jika ekspansi mandatori tidak diimbangi dengan pertumbuhan produksi CPO.
“Dengan kombinasi penurunan bea masuk India, potensi peningkatan permintaan global, risiko penurunan produksi akibat El Niño, serta penyerapan domestik melalui biodiesel, saya melihat saham-saham CPO masih memiliki ruang untuk dicermati,” ujar dia.
Hendra mengingatkan investor untuk tetap memantau harga CPO Malaysia, harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, kebijakan biodiesel, perkembangan ekspor India dan China, stok CPO Malaysia dan Indonesia, serta harga minyak kedelai dan minyak bunga matahari sebagai produk substitusi. Risiko utama yang perlu diperhatikan adalah jika harga CPO naik terlalu tinggi sehingga menekan margin industri hilir, atau kebijakan biodiesel meningkatkan penyerapan domestik namun justru membatasi ekspor dan volume penjualan perusahaan.
Rekomendasi Saham
Untuk pilihan saham, Hendra merekomendasikan strategi ‘Buy on Weakness’ untuk AALI di kisaran harga Rp7.375–7.550 dengan target harga Rp8.400. “AALI menarik karena memiliki skala produksi besar, integrasi bisnis yang cukup kuat dan kinerja produksi maupun penjualan yang menunjukkan pertumbuhan,” ujarnya.
Hendra juga menyematkan rekomendasi ‘Buy on Weakness’ untuk LSIP di sekitar Rp1.510 dengan target Rp1.800. Bagi investor dengan toleransi risiko lebih tinggi, TAPG dapat menjadi pilihan ‘Speculative Buy’ dengan target Rp2.200, sedangkan SSMS juga direkomendasikan sebagai ‘Speculative Buy’ dengan target Rp1.250.