IHSG Tertekan Konflik AS-Iran dan Isu Reshuffle Kabinet

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Pelemahan indeks dipicu oleh sentimen geopolitik global menyusul memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di pasar domestik, perombakan kabinet (reshuffle) juga turut menjadi perhatian para investor.

Pada sesi I perdagangan, IHSG tercatat turun 19,30 poin atau 0,32% ke level 5.990. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan pergerakan indeks saham Asia yang cenderung melemah, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik global.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen utama yang membebani pasar. Konflik antara AS dan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperparah kekhawatiran terhadap inflasi.

Menurut Pilarmas, pasar sedang mencermati perkembangan konflik AS-Iran, terutama setelah muncul laporan mengenai kemungkinan pengerahan kapal induk dan tambahan pasukan AS ke kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi.

“Eskalasi tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (2/10/2026).

Pilarmas menambahkan, kenaikan harga minyak menjadi perhatian serius bagi investor karena dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga. Kondisi ini berpotensi membuat investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengoleksi aset berisiko.

Sentimen Dalam Negeri

Dari pasar domestik, Pilarmas menyebutkan bahwa investor juga mencermati arah kebijakan pasca perombakan kabinet. Perubahan susunan pemerintahan menjadi perhatian pasar karena investor perlu melihat kesinambungan kebijakan ekonomi serta implementasi program pemerintah yang telah direncanakan.

Di sisi lain, Pilarmas melihat surplus perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 menjadi sentimen positif bagi pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan mencapai US$3,55 miliar, angka ini meningkat signifikan dibandingkan surplus US$120 juta pada Juli 2026.

“Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang dijadwalkan rilis pekan depan, termasuk cadangan devisa September, indeks keyakinan konsumen, dan penjualan ritel Agustus,” papar Pilarmas.

Pada sesi I perdagangan, saham BSWD, BLTZ, ROCK, TIFA, dan PGLI tercatat sebagai beberapa saham dengan kenaikan tertinggi. Sebaliknya, saham ALKA, CCSI, FORU, DADA, dan WIFI mengalami tekanan.

Pilarmas merekomendasikan investor untuk mencermati saham PT Astra International Tbk (ASII), dengan level support di angka 4.530 dan resistance di angka 4.730.

Tinggalkan komentar