IHSG Goyah Akibat Sentimen Global dan Domestik, Minyak Jadi Pemicu Utama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menghadapi volatilitas tinggi pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Sejumlah sentimen global dan domestik memicu pergerakan IHSG yang berombak, meskipun peluang pemulihan teknikal masih terbuka.

Pada saat berita ini ditulis, IHSG terpantau turun 4,46 poin (0,02%) ke level 6.009,11, bergerak bervariasi dalam rentang 5.979 hingga 6.044.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa sentimen IHSG saat ini cenderung mixed-to-bearish. Salah satu faktor penopang pasar adalah mulai meredanya tekanan jual dari investor asing.

“Per 1 Oktober kemarin, net sell asing di pasar reguler tercatat sekitar Rp240 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan sekitar Rp1,56 triliun pada 30 September,” ujar Nafan dalam risetnya, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, kondisi ini mengindikasikan pelemahan IHSG pada Kamis (1/10/2026) tidak lagi disertai akselerasi foreign selling seperti sehari sebelumnya. Hal ini menunjukkan tekanan jual mulai mereda, meskipun pasar masih memerlukan konfirmasi pembalikan tren.

Dari sisi global, Nafan menyebut pergerakan obligasi Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu sentimen penting. Yield obligasi 10 tahun turun 1,22% menjadi 5,246%, yang memberikan ruang bagi pasar saham untuk melakukan pemulihan teknikal.

Tidak hanya itu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga mulai menurun. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan 28 Oktober 2026 turun menjadi sekitar 28,2% dari 68,6% sepekan sebelumnya.

“Namun, pasar masih menunggu data US Nonfarm Payrolls (NFP) yang berpotensi mengubah kembali ekspektasi kebijakan moneter The Fed,” papar Nafan.

Minyak Jadi Biang Kerok Volatilitas

Di sisi lain, Nafan menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia menjadi sumber volatilitas. Harga Brent menguat 1,28% menjadi US$ 103,55 per barel, sementara WTI naik 2,75% menjadi US$ 92,91 per barel.

Penguatan harga minyak ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran, serta kebijakan China yang menangguhkan ekspor bahan bakar. Harga energi yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko inflasi yang didorong oleh energi dan kembali menekan pasar saham.

Dari dalam negeri, perombakan kabinet (reshuffle) juga menjadi sumber ketidakpastian jangka pendek. Investor masih mencermati kontinuitas kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli, serta koordinasi antar kementerian dan dengan Bank Indonesia (BI).

Nafan menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian setelah terdepresiasi sekitar 0,40% ke Rp 17.966 per dolar AS pada Kamis. Tekanan ini berasal dari kombinasi penguatan dolar AS, tingginya yield obligasi AS, dan sentimen risk-off domestik pasca-reshuffle.

“Posisi rupiah yang masih dekat level Rp 18.000 per dolar AS membuat investor cenderung lebih berhati-hati terhadap saham yang sensitif terhadap nilai tukar dan arus modal asing,” jelasnya.

Sementara itu, inflasi September tercatat naik menjadi 3,28% secara tahunan dari 3,19% pada Agustus. Meskipun masih dalam sasaran inflasi BI, kenaikan ini perlu dicermati jika harga minyak dunia bertahan tinggi, karena dapat mempersempit ruang pelonggaran moneter.

“Di tengah berbagai sentimen tersebut, investor juga mulai memasuki musim laporan keuangan kuartal III-2026. Periode ini berpotensi menjadi katalis bagi saham-saham dengan kinerja fundamental yang kuat,” tutupnya.

Tinggalkan komentar