IHSG Anjlok di Sesi I, Dipicu Minyak dan Aturan Saham Rp 1

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada sesi pertama perdagangan Senin (28/9/2026). Indeks ditutup turun 60,46 poin atau 0,97% ke level 6.183, akibat tekanan dari berbagai sentimen eksternal maupun domestik.

Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, sentimen eksternal yang membebani pasar antara lain pelemahan bursa saham regional Asia, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta kembalinya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) ke level yang tinggi.

Pilarmas menjelaskan, pasar kembali diselimuti kekhawatiran pasca-penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal terbaru dari Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Trump juga menganggap Teheran telah bertindak berlebihan dan berharap negosiasi dapat segera dilanjutkan.

“Ketidakpastian tersebut turut mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian pasar karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Senin (28/9/2026).

Selain itu, Pilarmas menambahkan, kenaikan yield obligasi AS juga memberikan tekanan terhadap IHSG. Yield obligasi AS 10 tahun tercatat mendekati 5,17%.

“Kenaikan yield obligasi AS tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi keuangan global yang lebih ketat serta peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama,” papar Pilarmas.

Investor saat ini menantikan sejumlah indikator ekonomi penting dari AS yang akan dirilis pekan ini, termasuk data inflasi yang menjadi sorotan The Fed dan data ketenagakerjaan. Data-data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

Presiden The Fed Bank of Cleveland, Beth Hammack, sebelumnya menyatakan bahwa sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran terhadap utang pemerintah, turut berkontribusi terhadap kenaikan imbal hasil obligasi AS jangka panjang.

Saham Rp 1 Bikin Gempar

Dari dalam negeri, Pilarmas menyoroti tingginya harga minyak dan potensi dampaknya terhadap kondisi fiskal. Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menerapkan batas minimum harga saham Rp1 mulai Senin (28/9/2026), menggantikan batas sebelumnya yang sebesar Rp50. Perubahan aturan ini merupakan bagian dari upaya reformasi mekanisme perdagangan saham di BEI.

Bersamaan dengan itu, BEI juga memperketat kriteria masuk Papan Pemantauan Khusus melalui mekanisme Full Call Auction (FCA). Tercatat, sebanyak 92 saham berhasil keluar dari Papan Pemantauan Khusus pada Jumat (25/9/2026).

Pilarmas menilai, perubahan aturan tersebut mengantarkan pasar memasuki fase penyesuaian baru. Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan psikologis bagi sebagian investor ritel dan membuka ruang volatilitas dalam jangka pendek.

“Penyesuaian harga tersebut tentunya untuk peningkatan kepercayaan institusi global yang menunjukkan pasar modal Indonesia semakin terbuka, transparan, dan adaptif,” jelas Pilarmas.

Namun, Pilarmas mengingatkan bahwa perubahan mekanisme perdagangan ini juga perlu dicermati karena berpotensi dimanfaatkan oleh spekulan untuk melakukan transaksi jangka pendek yang dapat meningkatkan volatilitas sejumlah saham.

Pada sesi pertama perdagangan, beberapa saham mencatatkan kenaikan terbesar, yaitu TAMU, PPRO, BEKS, BLTA, dan VIVA. Sebaliknya, saham yang mengalami penurunan terbesar antara lain TRUE, FORU, LPPS, SHID, dan LIFE.

Di tengah tekanan pasar ini, Pilarmas merekomendasikan aksi beli untuk saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). “Saham DSSA diprediksi akan bergerak pada level support di 1.005 dan resistance di 1.140,” tutup Pilarmas.

Tinggalkan komentar