JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak hanya berpuas diri dengan pencapaian pribadi. Ia mendorong mereka memanfaatkan prestasi, kreativitas, dan platform yang dimiliki sebagai kekuatan untuk memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan memajukan Indonesia.
Ibas menilai generasi muda memegang posisi strategis dalam menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat, meliputi perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan iklim, dinamika ekonomi global, hingga perubahan lanskap dunia kerja. “Jangan kita menjadi penonton. Kalian harus menjadi pembuat, bukan hanya sekadar konsumen. Kalian juga bisa menjadi kreator, bukan hanya follower, tetapi juga leader – to lead the way,” ujar Ibas pada Sabtu (27/9/2026).
Pesan ini disampaikan Ibas dalam audiensi kebangsaan bersama generasi muda yang mengusung tema ‘Generasi Muda Merawat Kebhinekaan, Mengembangkan Ekonomi Kreatif, dan Memajukan Pariwisata Indonesia’ di Rumah Kebangsaan MPR RI, Jakarta, pada Kamis (24/9). Acara ini mempertemukan Ibas dengan perwakilan generasi muda dari berbagai daerah, termasuk Mojang Jajaka Jawa Barat, Kang Nong Banten, Abang None Jakarta, serta duta pemuda dan olahraga.
Menurut Ibas, Indonesia memiliki modal besar berupa generasi muda dan keragaman budaya yang dapat menjadi kekuatan untuk membangun ekonomi baru. Potensi ini perlu diubah menjadi karya, inovasi, lapangan pekerjaan, serta nilai tambah bagi masyarakat. “Kebinekaan adalah sebuah identitas, kreativitas adalah sebuah kekuatan, dan pariwisata adalah jendela Indonesia menuju dunia,” kata Ibas.
Ibas secara khusus mengajak para Mojang Jajaka, Kang Nong, dan Abang None untuk melihat prestasi dan gelar yang mereka raih bukan sebagai tujuan akhir. Ia menekankan bahwa mahkota, selempang, maupun gelar juara dapat menjadi platform untuk memperkenalkan budaya, mengembangkan UMKM, mempromosikan destinasi wisata, serta memperkuat ekonomi kreatif Indonesia. “Jangan cuma berhenti dari urusan mahkota. Coba kalian lanjutkan bagaimana gelar juara dan selempang yang kalian miliki hari ini menjadi platform untuk memajukan Indonesia, budaya, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ibas merumuskan sebuah pesan yang dapat menjadi semangat bagi generasi muda: “Dari budaya menjadi karya, dari karya menjadi ekonomi, dan dari ekonomi menjadi kesejahteraan.” Ia mendorong generasi muda untuk menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga nilai ekonomi dan mampu membuka kesempatan bagi masyarakat di sekitarnya.
Satu Anak Muda, Seribu Karya
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu menawarkan gagasan gerakan “Satu Anak Muda, 1.000 Karya”. Ibas menekankan bahwa anak muda tidak perlu menunggu memiliki sumber daya besar untuk memulai. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk membuat konten, produk, inovasi, maupun karya yang bermanfaat. “Satu anak muda, seribu karya. Jangan hanya berkarya untuk satu orang, tetapi buat sesuatu yang bisa memberikan manfaat kepada seribu orang atau lebih,” kata Ibas.
Gagasan ini mengangkat cerita tentang budaya, sejarah, kuliner, destinasi, hingga kisah lokal lainnya menjadi bagian dari promosi Indonesia kepada dunia. Ibas juga mendorong terbentuknya ekosistem yang kuat dengan mempertemukan generasi muda, pemerintah, parlemen, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan. “Kalau kalian punya teman dan saudara di pemerintahan, parlemen, dunia usaha, maupun komunitas, ayo kita berkolaborasi. Inilah cara kita mewujudkan tujuan besar secara bersama-sama,” ujarnya.
Kolaborasi Lintas Perbedaan
Ibas menegaskan bahwa kebinekaan tidak boleh hanya dipahami sebagai keberagaman identitas, tetapi harus menjadi kekuatan untuk membangun kolaborasi. Ia mengingatkan generasi muda bahwa perbedaan suku, budaya, bahasa, daerah asal, maupun pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling bermusuhan. “Kita boleh berbeda suku, pilihan politik, pikiran, dan gagasan. Tetapi kita jangan sampai bermusuhan. Negara ini tidak akan pernah bisa besar kalau kita memimpin secara parsial, apalagi sendiri-sendiri,” katanya.
Menurut Ibas, demokrasi membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat sekaligus kemampuan untuk bekerja sama setelah proses pengambilan keputusan dilakukan. Ia mengutip prinsip pentingnya kolaborasi: “Intinya kita penting untuk berkolaborasi. Dari Jawa Barat, Banten, DKI, Jawa Timur, dan seterusnya. Termasuk kami di parlemen juga berkolaborasi.”
Generasi Muda Menghadapi Era AI
Ibas juga mengingatkan bahwa generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan teknologi yang berbeda. Kehadiran artificial intelligence (AI), media sosial, algoritma, serta arus informasi yang cepat menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Generasi muda perlu memiliki kemampuan literasi, berpikir kritis, karakter, dan adab agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif. “Mari kita perkuat ilmu, mari kita perkuat karakter, mari kita perkuat adab kita,” tegasnya.
Ibas menilai pendidikan harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berakar pada nilai-nilai Indonesia. Pesan ini sejalan dengan perhatian Ibas dalam forum sebelumnya terhadap perkembangan AI, ekonomi kreatif, dan peran generasi muda dalam transformasi digital. MPR RI sebelumnya juga mencatat dorongannya agar generasi muda menjadi pemain, pencipta, dan penggerak perubahan.
Edhie Baskoro juga mengajak generasi muda mengembangkan gagasan sosial melalui gerakan yang berorientasi pada peningkatan kualitas manusia dan kesejahteraan masyarakat, seperti semangat Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif, dan Indonesia Peduli. Indonesia Pintar dapat diwujudkan melalui literasi dan edukasi, Indonesia Sehat melalui kampanye hidup sehat dan pencegahan penyakit, Indonesia Hijau melalui gerakan menjaga lingkungan, serta Indonesia Kreatif melalui pemanfaatan bidang seni dan kuliner untuk lapangan kerja. Indonesia Peduli menekankan penguatan solidaritas dan kepedulian sosial.
Ibas menekankan pentingnya kepemimpinan yang bersedia mendengar aspirasi generasi muda, mengutip ungkapan ‘To lead is to listen’. Ia menyatakan bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan seketika, namun aspirasi tersebut penting sebagai masukan dalam penyusunan kebijakan.
Generasi Muda sebagai Problem Solver
Ibas mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengidentifikasi persoalan, tetapi juga mengambil peran sebagai ‘problem solver’. “Kami berharap solusi itu tumbuh dari teman-teman semuanya. Kalau hari ini kalian menjadi bagian dari masalah, sudah banyak yang akan berperan seperti itu. Tetapi kalau kalian menjadi bagian dari problem solver, itulah yang terbaik,” katanya.
Ia berharap forum tersebut tidak hanya berhenti sebagai pertemuan, tetapi dilanjutkan dengan kerja nyata melalui komunitas dan jejaring lintas daerah. “Jangan pernah berhenti untuk belajar. Jangan pernah berhenti untuk berinovasi. Buka lapangan pekerjaan, angkat budaya, dan jaga lingkungan,” pesan Ibas. Ia berharap generasi muda yang hadir dapat terus mengembangkan kapasitas dan karya hingga menjadi bagian dari kepemimpinan nasional di masa depan. “Masa depan yang baik bukan masa depan yang kita tunggu, tetapi masa depan yang bisa kita ciptakan sendiri, dari tangan-tangan dan keringat kita sendiri,” pungkasnya.
Sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat yang hadir dalam audiensi turut menawarkan langkah kolaborasi konkret. Dede Yusuf menekankan keterlibatan duta daerah dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dan berjanji berkomunikasi dengan Mendagri terkait payung regulasi daerah. Sabam Sinaga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah pada kepemudaan di luar olahraga, menawarkan kolaborasi program Youth Camp dan akses pendanaan kebudayaan. Dina Lorenza mendorong generasi muda memanfaatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mengembangkan potensi daerah melalui kreativitas dan media digital, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan keberlanjutan.