Humas Pemerintah Dituntut Ubah Data Jadi Berita yang Berdampak bagi Publik

Jakarta – Humas instansi pemerintah dituntut untuk mengadopsi perspektif jurnalistik dalam mengolah informasi. Data dan program yang dimiliki seharusnya tidak hanya menjadi laporan kegiatan, melainkan diolah agar memiliki relevansi dan dampak yang jelas bagi masyarakat.

Perspektif ini dijabarkan oleh Redaktur Pelaksana detikNews, Indah Mutiara Kami, dalam sesi Journalism & NewsCraft+ di acara The Classroom by detikcom. Ia memaparkan cara efektif mengubah data dan program instansi menjadi materi pemberitaan yang berdampak.

“Ketika ini tujuannya untuk masyarakat, harus ada bedanya. Mana yang laporan kegiatan, mana yang memang tujuannya untuk disampaikan kepada masyarakat,” ujar Tiara, sapaan akrabnya, di Wisma Pertanian Cipayung, Bogor, Rabu (23/9/2026).

Peran Humas dalam Manajemen Krisis

Tiara juga menekankan pentingnya manajemen krisis dalam pekerjaan kehumasan. Di era digital, krisis dapat muncul secara tak terduga dan menyebar cepat melalui media sosial. Pernyataan instansi dalam situasi krisis sangat mempengaruhi persepsi publik, sehingga humas memegang peran krusial dalam menjelaskan sebuah peristiwa.

Ia mencontohkan kasus respons Senayan City (Sency) terhadap insiden penendangan wanita yang dinilai tidak menjawab persoalan utama dan justru memicu kritik serta cancel culture. Sebaliknya, respons TransJakarta (TJ) terhadap kasus tunawisma yang diturunkan dari bus karena bau badan dinilai baik, karena mencakup permintaan maaf, penjelasan, tindakan yang diambil, serta evaluasi.

“Peran humas penting karena bisa jadi membuat pernyataan bisa membuat kondisi jadi lebih baik atau lebih buruk,” kata Tiara.

Tugas humas, lanjutnya, bukan hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga menjelaskan langkah-langkah yang telah diambil instansi pasca peristiwa.

Agar Siaran Pers Tak Ditolak Redaksi

Data Muck Rack ‘State of Journalism’ (2024-2025) menunjukkan 86% jurnalis membuang rilis karena tidak relevan, 71% menolak rilis bernada promosi, dan 50% mengabaikan rilis yang terasa seperti template massal. Tiara menjelaskan bahwa redaksi menerima banyak siaran pers setiap hari, namun tidak semuanya menjadi berita.

Alasan utama rilis tidak menarik perhatian redaksi adalah ketidakjelasan dampaknya bagi pembaca atau penggunaan bahasa yang terlalu promosi. “Saya jelaskan di awal karena ini kenyataannya. Nantinya mungkin dari humas-humas instansi lain juga kadang sering nanya, ‘gimana nih caranya biar rilis kita bisa naik, rilis kita dilihat, atau rilis kita viral gitu, berita kita viral gitu?’,” kata Tiara.

Informasi mengenai program pemerintah, misalnya, perlu menjelaskan manfaatnya, siapa yang terdampak, serta perubahan yang dirasakan masyarakat, bukan sekadar laporan kegiatan telah dilaksanakan. “Bukan hanya sekadar seremoni atau formalitas, tapi hal-hal yang baik yang ada di instansi tersebut bisa sampai ke masyarakat,” jelas Tiara.

Mengolah Data untuk Kebutuhan Publik

Tiara menekankan pentingnya mengolah data agar tidak hanya menjadi deretan angka. Data yang dimiliki instansi menjadi bernilai jika mampu menjawab kebutuhan publik. Terlalu banyak angka tanpa konteks dapat membuat pesan utama tidak tersampaikan.

Dalam konteks humas pemerintah, pengolahan informasi ini juga membangun transparansi dan kepercayaan publik. Program yang dijalankan instansi akan lebih mudah dipahami masyarakat jika tujuan, pelaksanaan, dan manfaatnya disampaikan secara jelas.

Tiara menegaskan tugas humas adalah menjelaskan mengapa sebuah kegiatan penting dan apa dampaknya bagi masyarakat. Ia mencontohkan Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian RI (Kementan) sebagai program menarik yang perlu dikomunikasikan efektif.

“Tantangannya adalah memang membuat program yang baik ini tersosialisasi dengan baik ke masyarakat, sehingga masyarakat bisa tahu apa dampaknya kepada mereka,” kata Tiara.

Kegiatan The Classroom by detikcom ini diselenggarakan oleh Ditjen Hortikultura bersama detikcom pada 23-25 September 2026 di Wisma Pertanian Cipayung, Bogor. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan keterampilan komunikasi publik jajaran Kementan, khususnya dalam penguatan jurnalistik, strategi media sosial, branding, dan produksi konten digital.

Komunikasi Efektif Penting untuk HDDAP

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol, menyatakan pelatihan The Classroom merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kemampuan komunikasi publik jajaran Ditjen Hortikultura. Program-program strategis perlu disampaikan secara menarik, mudah dipahami, dan memenuhi kaidah jurnalistik.

Freddy menjelaskan bahwa enam unit Eselon II di Ditjen Hortikultura menjalankan beragam program yang capaiannya perlu dikemas menjadi informasi relevan dan berdampak bagi publik. “Pelatihan publikasi media ini adalah langkah strategis untuk memastikan setiap program dan kinerja publik di lingkungan Direktorat Jenderal Hortikultura disampaikan secara akurat, edukatif, dan menarik,” ujar Freddy.

Peningkatan kapasitas komunikasi juga krusial untuk penyebarluasan informasi HDDAP, program yang didukung Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD). “Manfaat-manfaat yang sudah dilakukan melalui HDDAP perlu disampaikan kepada masyarakat. Penyampaiannya bisa melalui berbagai bentuk publikasi, mulai dari tulisan, video, audio, hingga media sosial,” kata Freddy.

“Kami ingin petugas di Ditjen Hortikultura mampu menyajikan informasi penting dan berbagai pencapaian tersebut sehingga masyarakat mengetahui program-program yang telah dilakukan pemerintah,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar