Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Kamis (1/10/2026), dipicu oleh keputusan China menghentikan ekspor produk minyak serta laporan mengenai pengiriman tambahan pasukan dan kapal induk Amerika Serikat ke Timur Tengah.
Minyak mentah Brent untuk kontrak terdepan Desember 2026 ditutup menguat US$ 4,28 atau 4,37% menjadi US$ 102,31 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,45 atau 2,71% mencapai US$ 92,87 per barel.
Kenaikan harga ini terjadi di tengah kekhawatiran akan semakin ketatnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) global. Laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa AS sedang mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 personel militer tambahan ke Timur Tengah, seiring dengan pertimbangan Presiden AS Donald Trump mengenai serangan terhadap Iran.
Trump menyatakan masih mempertimbangkan sejumlah opsi terkait Iran. “Sekarang saya harus mengambil keputusan. Mereka akan menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi,” kata Trump.
Sentimen pasar semakin memanas setelah Reuters melaporkan bahwa kilang-kilang di China menghentikan ekspor produk minyak ke luar Hong Kong dan Makau hingga waktu yang belum ditentukan. UBS mencatat langkah ini mengindikasikan kekhawatiran terhadap ketersediaan produk minyak di pasar domestik China.
Namun, masih perlu diamati apakah kebijakan ini akan mendorong peningkatan impor minyak mentah China, terutama setelah stok minyak mentah dan BBM negara tersebut mengalami penurunan. “Larangan ekspor China menunjukkan kekhawatiran mengenai ketersediaan produk di dalam negeri,” ujar analis UBS Giovanni Staunovo.
Pasokan minyak mentah masih mengalir ke pasar, namun produk olahan seperti diesel berada dalam kondisi yang lebih ketat. Hal ini disebabkan oleh kerusakan infrastruktur kilang di kawasan Teluk dan Rusia. Persediaan diesel global juga menipis setelah Rusia, salah satu eksportir utama diesel, melarang ekspor hingga Oktober. Pelaku industri memperkirakan kelangkaan ini belum akan berakhir hingga tahun depan.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan negaranya tidak akan memasok diesel ke pasar energi global hingga sanksi terhadap Moskow dicabut. “Dampak pembatasan ekspor BBM China tidak akan sebesar hilangnya ekspor produk minyak olahan dari Rusia dan Timur Tengah. Namun, ini menjadi sumber tekanan tambahan bagi pasar BBM global ketika pasokan sudah sangat terbatas,” kata Senior Climate and Commodities Economist Capital Economics Hamad Hussain.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Iran belakangan ini relatif minim, sementara serangan masih terus berlanjut. Pada Selasa, tiga kapal tanker minyak berbendera Liberia dilaporkan terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz, yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan pasokan minyak global.
Di tengah gangguan pasar minyak dan BBM, sejumlah analis menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent 2026 menjadi US$ 89,05 per barel. Meskipun demikian, mereka juga melihat adanya tanda-tanda pemulihan bertahap ekspor dari Timur Tengah. Arab Saudi telah kembali memuat minyak dari Yanbu pada Selasa setelah mengaktifkan kembali East-West Pipeline.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk, termasuk pengiriman yang dilakukan kapal dengan transponder lokasi dimatikan, telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir. Angka ini sejalan dengan rata-rata 2025, setelah ekspor melonjak sepanjang September.