Harga CPO Tertekan oleh Ekspor Lesu dan Kekhawatiran Stok

Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026). Tekanan terhadap komoditas ini datang dari beberapa faktor, termasuk lemahnya ekspor minyak sawit Malaysia, kekhawatiran akan kenaikan stok, serta lesunya permintaan dari India.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 tercatat turun 9 Ringgit Malaysia menjadi 4.466 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2026 juga terpangkas 22 Ringgit Malaysia menjadi 4.556 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak CPO Desember 2026 melemah sebesar 8 Ringgit Malaysia menjadi 4.664 Ringgit Malaysia per ton. Namun, kontrak CPO Januari 2027 menunjukkan tren yang berbeda dengan peningkatan 6 Ringgit Malaysia menjadi 4.774 Ringgit Malaysia per ton. Hal serupa juga terjadi pada kontrak Februari 2027 yang melesat 15 Ringgit Malaysia menjadi 4.876 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Maret 2027 terkerek 15 Ringgit Malaysia menjadi 4.968 Ringgit Malaysia per ton.

Menurut data dari Tradingview, tekanan terhadap harga CPO terutama bersumber dari pelemahan harga minyak nabati pesaing di pasar Dalian dan Chicago. Sentimen bearish semakin menguat setelah sejumlah surveyor kargo memperkirakan pengiriman minyak sawit Malaysia turun antara 15,1% hingga 24,3% dalam 25 hari pertama September jika dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya.

Ekspektasi kenaikan stok minyak sawit Malaysia dan lesunya permintaan dari India pada bulan September turut membebani harga CPO. Meskipun demikian, adanya potensi pemangkasan bea masuk oleh India berpeluang menopang impor menjelang musim festival di negara tersebut.

Stok Mulai Jadi Sorotan

Para pelaku pasar juga tengah mencermati produksi sawit Malaysia. Sejumlah pejabat industri telah menyatakan bahwa dampak fenomena El Nino sejauh ini belum terlihat signifikan terhadap produksi minyak sawit di negara tersebut.

Di sisi lain, kondisi cuaca di Indonesia berpotensi menjadi perhatian pasar. Musim hujan yang diperkirakan akan lebih singkat dari biasanya mulai November dapat meningkatkan risiko terhadap kondisi tanaman sawit di Indonesia.

Tekanan terhadap harga CPO sedikit tertahan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tawaran bersyarat dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Harga minyak mentah yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel dan energi dibandingkan dengan komoditas nabati lainnya. Namun, untuk saat ini, tekanan dari lemahnya ekspor dan kekhawatiran akan stok masih membayangi pergerakan harga CPO.

Tinggalkan komentar