Harga Batu Bara Tertekan Akibat Pelemahan Minyak Mentah Global

Harga batu bara mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Pelemahan ini sejalan dengan koreksi yang terjadi pada sejumlah komoditas energi lain, terutama minyak mentah, seiring dengan mulai pulihnya pasokan energi global.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Oktober 2026 tercatat jatuh US$ 0,8 menjadi US$ 145,2 per ton. Kontrak November 2026 juga anjlok US$ 0,95 ke level US$ 146,4 per ton, sementara kontrak Desember 2026 ambles US$ 1,2 menjadi US$ 147,75 per ton.

Pergerakan serupa terjadi pada harga batu bara Rotterdam. Kontrak Oktober 2026 melemah US$ 0,7 menjadi US$ 137,3 per ton. Kontrak November 2026 ambrol US$ 1,15 ke US$ 136,7 per ton, dan kontrak Desember 2026 terpangkas US$ 1,3 menjadi US$ 136,45 per ton.

Pelemahan harga komoditas energi ini terjadi di tengah pergerakan pasar yang masih dipengaruhi oleh perkembangan pasokan dan permintaan global.

Pasar minyak mentah juga menunjukkan tren penurunan. Harga minyak mentah Brent pada Selasa, 29 September 2026, jatuh US$ 2,69 (2,6%) menjadi US$ 102,59 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$ 3,22 (3,5%) menjadi US$ 89,38 per barel.

Penurunan harga minyak ini dipicu oleh munculnya tanda-tanda pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah. Arab Saudi dilaporkan kembali melakukan pengapalan minyak dari pelabuhan Yanbu setelah operasional pipa East-West kembali berjalan normal.

Kondisi ini meningkatkan prospek pasokan minyak global dan memberikan tekanan pada harga komoditas energi. Data dari Reuters menunjukkan ekspor minyak mentah kawasan Timur Tengah pada September mencapai 16,328 juta barel per hari, level tertinggi sejak konflik dimulai pada Februari.

Di pasar batu bara, perkembangan pasokan juga menjadi sorotan. Trading Economics mencatat bahwa harga batu bara sempat berada di atas US$ 145 per ton karena pasar menghadapi pengetatan pasokan global. Indonesia melaporkan pengiriman batu bara turun 23% secara tahunan pada Agustus, mencapai level terendah untuk bulan tersebut dalam lima tahun terakhir.

Meskipun demikian, harga batu bara masih mendapatkan dukungan dari tingginya permintaan pembangkit listrik. International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa harga batu bara Newcastle dan ARA telah menguat sepanjang paruh pertama 2026. Penguatan ini antara lain disebabkan oleh harga gas yang tinggi, yang membuat batu bara lebih kompetitif dalam pembangkitan listrik.

Dengan demikian, koreksi harga batu bara pada perdagangan Selasa berlangsung di tengah tarik-menarik antara faktor pasokan yang masih ketat dan sentimen negatif dari pasar energi global setelah harga minyak mengalami penurunan.

Tinggalkan komentar