Goresan Kaca Lokomotif dan Sinyal Tak Terlihat Jadi Pemicu Tabrakan KA Anggrek dan KRL

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah merilis hasil investigasi mengenai kecelakaan antara Kereta Api (KA) Anggrek dan KRL Commuter Line yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Laporan tersebut mengidentifikasi beberapa faktor krusial yang berkontribusi pada insiden yang menelan 16 korban jiwa dan melukai 107 orang lainnya.

Salah satu temuan utama KNKT adalah kondisi kaca depan lokomotif KA Anggrek yang dipenuhi goresan akibat penggunaan wiper dan goresan halus berbentuk melingkar. Material polycarbonate yang digunakan pada kaca kabin lokomotif, sesuai nota dinas tahun 2015, ternyata rentan terhadap goresan. Kondisi ini secara signifikan mempengaruhi pandangan masinis, terutama di malam hari, di mana sumber cahaya lampu tampak berpendar dan menyebar lebih luas (light scattering).

Laporan KNKT membandingkan visibilitas dari kabin lokomotif KA Anggrek dengan kabin KRL. Hasilnya menunjukkan bahwa cahaya yang terlihat dari lokomotif KA Anggrek jauh lebih berpendar dibandingkan dengan KRL yang menggunakan material laminated safety glass. Perbedaan ini menjadi krusial dalam upaya masinis mengidentifikasi sinyal-sinyal di depannya.

KNKT juga menyoroti pemahaman masinis KA Anggrek mengenai sistem persinyalan. Masinis KA 4B diketahui memperoleh aspek hijau saat melewati sinyal keluar Stasiun Bekasi, yang umumnya mengindikasikan kelancaran perjalanan. Pemahaman umum di kalangan masinis adalah bahwa sinyal hijau berurutan akan diikuti oleh sinyal hijau atau kuning, dan sinyal merah selalu didahului oleh kuning sebagai peringatan.

Namun, lokasi sinyal blok B104 yang berjarak 410 meter dari titik pandang masinis tidak memenuhi jarak pandang minimum 600 meter yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 44 Tahun 2018. Untuk mengatasi hal ini, dipasanglah Sinyal Pembantu UB104. Sayangnya, sinyal pembantu ini menggunakan lampu LED putih yang disusun berjajar, sehingga pada malam hari sulit dibedakan dari penerangan kawasan permukiman di sekitarnya.

Kombinasi antara goresan pada kaca lokomotif KA Anggrek yang menyebabkan pendaran cahaya berlebih dan kesulitan mengidentifikasi sinyal pembantu UB104 mengurangi kewaspadaan masinis. Akibatnya, masinis baru melakukan pengereman penuh setelah melihat aspek sinyal blok B104, yang sudah terlambat untuk mencegah tabrakan.

KNKT menyimpulkan bahwa jika aspek sinyal pembantu UB104 dapat teridentifikasi dengan baik, masinis KA Anggrek seharusnya dapat melakukan pengereman lebih awal, sehingga dampak kecelakaan dapat diminimalisir.

Tinggalkan komentar