Harga emas global kini menghadapi tekanan jual yang meningkat setelah menembus sejumlah level teknikal krusial. James Stanley, Senior Strategist StoneX, menyatakan bahwa level US$ 4.000 per ons troi akan menjadi penentu arah pergerakan harga emas selanjutnya.
Pada Kamis (1/10/2026), harga emas tercatat melemah 0,1% ke level US$ 4.153,09 per ons troi. Sebelumnya, harga emas spot ditutup turun 0,61% menjadi US$ 4.157,12 per ons troi pada Rabu (30/9/2026). Pelemahan ini berujung pada catatan penurunan bulanan sebesar 6,69% sepanjang September.
Sebelumnya, emas berhasil bertahan di tengah kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dalam beberapa pekan. Namun, tren tersebut berbalik pada awal pekan ini ketika tekanan jual membawa emas menembus level terendah pasca-pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Menurut Stanley, pelemahan ini juga mengakibatkan pola bear flag pada grafik jangka pendek jebol. Kondisi ini membuka peluang emas untuk kembali menguji level terendah sebelumnya. “Penjual telah mendorong harga menembus pola tersebut, membuka peluang pengujian kembali level terendah yang kemudian diikuti level US$ 4.100 per ons troi,” kata Stanley dalam analisisnya.
Stanley mengamati bahwa pada grafik harian, emas membentuk pola descending triangle sebelum pembukaan perdagangan pekan ini. Pola ini merupakan formasi bearish yang mengindikasikan tekanan jual.
Aksi jual pada Senin (28/9/2026) kembali menembus area support pola tersebut, mendorong harga emas ke level terendah bulanan. Stanley menilai, kondisi ini menegaskan dominasi penjual di pasar emas. Level US$ 4.100 per ons troi menjadi area penting karena sebelumnya berfungsi sebagai resistance pada Juli, sebelum emas mengalami breakout.
“Jika tekanan jual berlanjut, area tersebut berpotensi menjadi pijakan sebelum emas menguji level US$ 4.000,” papar Stanley.
US$ 4.000 Jadi Kunci
Stanley menilai level US$ 4.000 per ons troi sangat krusial karena menyatukan prospek jangka pendek dan jangka panjang emas.
Tekanan terhadap emas saat ini terjadi bersamaan dengan kenaikan yield obligasi AS dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Situasi ini menjadi tantangan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, Stanley mengingatkan bahwa fundamental yang kurang mendukung emas bukanlah hal baru. “Situasi serupa juga terjadi pada Juni dan awal tahun ketika kenaikan harga minyak meningkatkan ekspektasi inflasi dan memengaruhi ekspektasi suku bunga,” jelas Stanley.
Menurut Stanley, jika emas mampu bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi dan membentuk pola higher low, peluang pembalikan harga masih terbuka. Kondisi ini akan semakin menarik jika grafik mingguan mulai menunjukkan akumulasi titik terendah dan wick di sekitar level US$ 4.000 per ons troi.
“Sebaliknya, jika US$ 4.000 per ons troi benar-benar ditembus, tekanan jual berpotensi semakin dalam. Dengan level US$ 3.500 per ons troi sebagai level berikutnya, bahkan US$ 2.790 per ons troi dalam skenario penurunan yang lebih jauh,” tutup Stanley.