Kapan Kebutaan Akibat Katarak Bisa Dicegah dengan Operasi?

Katarak, kondisi yang membuat lensa alami mata menjadi keruh, dapat mengganggu penglihatan secara signifikan. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata terhalang atau menyebar, menimbulkan gejala seperti penglihatan buram seperti berkabut, silau berlebih, dan perubahan persepsi warna menjadi lebih kekuningan.

Dr. Milzan Murtadha, SpM, seorang dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, menjelaskan bahwa meskipun penuaan adalah penyebab paling umum, katarak tidak semata-mata disebabkan oleh usia. Berbagai faktor lain seperti diabetes, riwayat cedera atau operasi mata, penggunaan obat-obatan tertentu, dan faktor genetik juga berperan penting.

“Katarak memang paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi faktor yang memengaruhinya cukup beragam. Kondisi seperti diabetes, riwayat trauma atau operasi pada mata, penggunaan obat tertentu, hingga faktor genetik juga perlu diperhatikan. Karena itu, pemeriksaan mata penting untuk memahami kondisi setiap pasien secara menyeluruh, bukan hanya melihat faktor usia,” jelas dr Milzan.

Seiring perkembangan katarak, aktivitas sehari-hari seperti membaca, berkendara, melihat dalam kondisi cahaya minim, dan mengenali lingkungan sekitar menjadi semakin sulit. Jika tidak ditangani, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi gangguan penglihatan serius bahkan kebutaan.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya katarak, tetapi sejauh mana kondisi tersebut sudah memengaruhi fungsi penglihatan dan aktivitas pasien. Perjalanan katarak dan kebutuhan setiap orang berbeda, sehingga waktu serta pilihan penanganannya juga perlu ditentukan berdasarkan pemeriksaan dan diskusi bersama dokter,” tambah Dr. Milzan.

Teknologi dan Pilihan Lensa Semakin Personal

Penanganan utama katarak adalah melalui operasi pengangkatan lensa keruh yang kemudian diganti dengan lensa intraokular (IOL). Kemajuan teknologi medis telah memungkinkan operasi yang lebih presisi dan pilihan lensa yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu pasien.

Salah satu inovasi yang ditawarkan adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS). Teknologi ini menggunakan laser femtosecond untuk membantu tahapan krusial dalam operasi, termasuk pembuatan insisi dan bukaan kapsul lensa dengan tingkat presisi dan konsistensi yang tinggi. Laser ini juga membantu memecah lensa keruh sebelum diangkat, sehingga mengurangi kebutuhan energi ultrasonik selama prosedur.

Pilihan Lensa Tanam (IOL) yang Tersedia:

  • Lensa Tanam Multifokal: Dirancang untuk memberikan penglihatan yang jelas pada jarak jauh, menengah, dan dekat, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada kacamata untuk berbagai aktivitas.
  • Lensa Tanam EDOF (Extended Depth of Focus): Menawarkan rentang penglihatan yang luas dari jauh hingga dekat, dengan keunggulan utama pada penglihatan jarak menengah, ideal untuk aktivitas seperti menggunakan komputer atau melihat panel instrumen kendaraan.
  • Lensa Tanam Monofokal: Memiliki satu titik fokus utama, biasanya untuk penglihatan jarak jauh. Pasien mungkin masih memerlukan kacamata untuk aktivitas pada jarak lain, sesuai dengan target koreksi yang ditetapkan.
  • Lensa Tanam Toric: Khusus ditujukan untuk mengoreksi astigmatisme (mata silinder) dan dapat dikombinasikan dengan lensa monofokal, EDOF, atau multifokal.

Pemilihan jenis lensa tanam yang paling tepat memerlukan pertimbangan matang. Dokter perlu mengevaluasi kondisi kornea, retina, saraf mata, anatomi bola mata, hasil kalkulasi lensa, gaya hidup pasien, serta ekspektasi mengenai penggunaan kacamata pasca-operasi.

“Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, serta ekspektasi penggunaan kacamata setelah operasi. Dari situ, pasien dapat memahami pilihan yang paling sesuai dengan kondisinya,” ujar dr. Milzan.

Tinggalkan komentar