Emas Anjlok 4% Akibat ‘Badai Sempurna’ Pasar Keuangan

Harga emas dunia mengalami kejatuhan signifikan hingga 4% pada perdagangan Senin (28/9/2026). Tekanan datang dari kombinasi lonjakan harga minyak mentah, penguatan nilai dolar Amerika Serikat (AS), dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS. Kombinasi faktor ini memperkuat spekulasi pasar mengenai kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Berdasarkan data yang ada, harga emas spot ditutup ambles 3,98% menjadi US$ 4.115 per ons troi. Level terendah yang sempat dicapai adalah US$ 4.110,55 per ons troi, menandai titik terendah sejak 5 Agustus 2026 atau dalam lebih dari tujuh pekan terakhir. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga dilaporkan anjlok 4% dan ditutup pada angka US$ 4.148,5 per ons troi.

Jim Wyckoff, seorang analis pasar di American Gold Exchange, menjelaskan bahwa kenaikan tajam harga minyak mentah mengindikasikan inflasi masih menjadi isu yang perlu diwaspadai. Hal ini berpotensi mendorong The Fed untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Menurut Wyckoff, kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar AS yang kini berada di kisaran level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, telah menciptakan apa yang ia sebut sebagai ‘perfect storm’ yang memicu penurunan tajam pada harga logam mulia.

Harga minyak mentah dilaporkan naik sekitar 3% setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap kesepakatan damai dengan Iran. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung dan membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak mentah berpotensi kembali memicu inflasi. Situasi ini dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level yang tinggi lebih lama, atau bahkan mempertimbangkan untuk menaikkannya kembali.

Emas secara tradisional dianggap sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika kenaikan inflasi justru mendorong suku bunga menjadi lebih tinggi, daya tarik emas dapat tertekan. Hal ini terjadi karena investor memiliki alternatif aset lain yang dapat memberikan imbal hasil.

Dolar AS juga tercatat bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini secara otomatis membuat emas, yang dihargai dalam dolar AS, menjadi lebih mahal bagi para pembeli yang bertransaksi menggunakan mata uang lain.

Di pasar obligasi, tren kenaikan yield obligasi AS terus berlanjut dan turut memberikan tekanan pada harga emas. Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memilih untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil tetap, seperti emas.

The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga Lagi

Tekanan terhadap harga emas semakin meningkat seiring dengan meningkatnya taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh The Fed. Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan pelaku pasar melihat adanya peluang sekitar 94% untuk satu kali kenaikan suku bunga acuan yang akan dilakukan pada Desember mendatang.

Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada awal September. Bank sentral AS ini juga telah mengisyaratkan kemungkinan adanya kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Sejumlah pejabat The Fed juga turut menegaskan bahwa risiko inflasi masih tergolong tinggi, sehingga suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih lanjut. Presiden The Fed Bank of Cleveland, Beth Hammack, menjadi salah satu pejabat terbaru yang menyampaikan pandangan serupa.

Selanjutnya, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Data tersebut meliputi laporan lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan dari ADP, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), hingga laporan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls).

Data-data ekonomi tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed serta pergerakan harga emas di masa mendatang.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot dilaporkan rontok 5,71% menjadi US$ 60,63 per ons. Sementara itu, harga platinum terpangkas 3,65% menjadi US$ 1.716,55 per ons, dan harga paladium jeblok 4,82% menjadi US$ 1.210,05 per ons.

Tinggalkan komentar