Indeks-indeks saham Wall Street mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Senin (28/9/2026). Lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) kembali menekan pasar saham, menyeret saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Investor juga meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.
Dow Jones Industrial Average terpangkas 347,11 poin atau 0,67% menjadi 51.481,51. Indeks S&P 500 melemah 0,77% ke 7.683,69, sementara Nasdaq Composite turun 0,92% menjadi 26.820,38. Pada sesi terburuknya, Dow Jones sempat terkoreksi lebih dari 400 poin dan S&P 500 turun sekitar 1%.
Tekanan utama berasal dari pasar obligasi. Yield obligasi AS tenor 10 tahun menembus 5,2%, sedangkan yield obligasi 30 tahun melampaui 5,5%. Kedua tenor tersebut bergerak di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Kenaikan yield obligasi kembali signifikan hari ini dan itu menyebabkan pelemahan yang cukup dapat dipahami di pasar saham,” kata Justin Bergner, manajer portofolio Gabelli Funds.
Bergner menambahkan bahwa persaingan mendapatkan modal akibat besarnya belanja perusahaan teknologi dan AI turut memberikan tekanan terhadap pasar. Suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi membebani konsumen.
Kenaikan yield membuat aset berbasis obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan saham, sekaligus meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan. Kondisi ini menjadi tekanan tambahan bagi saham teknologi yang cenderung memiliki valuasi tinggi.
Sejumlah saham teknologi dan AI pun berakhir di zona merah. Advanced Micro Devices (AMD) turun 3,6%, Micron Technology melemah 2,6%, sementara Amazon dan Microsoft masing-masing terkoreksi sekitar 1%. Meta Platforms menjadi salah satu saham yang paling terpukul dengan penurunan 4,8%.
Namun, Nvidia bergerak melawan tren dengan membukukan kenaikan 1,7% setelah mengumumkan rencana pembelian kembali saham tambahan senilai US$150 miliar. Dengan tambahan tersebut, total nilai program pembelian kembali saham Nvidia mencapai US$235 miliar.
Tekanan terhadap Wall Street terjadi setelah pasar saham mencatat kenaikan pada pekan sebelumnya, di mana saham teknologi menjadi penggerak utama. Meta melonjak hampir 13%, Microsoft naik lebih dari 4%, sementara Apple dan Nvidia masing-masing menguat lebih dari 1%.
Reli tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan yield obligasi AS ke level yang tidak terlihat dalam beberapa tahun. Investor meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed di tengah kekhawatiran inflasi yang masih persisten.
Yield obligasi AS 10 tahun sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 2007, sedangkan yield obligasi 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2004. Yield obligasi dua tahun juga melonjak sekitar 17 basis poin pada pekan lalu.
Pasar kini mengalihkan perhatian ke sejumlah data ekonomi penting AS yang akan dirilis pekan ini. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, dijadwalkan dirilis Rabu (30/9/2026). Data manufaktur AS menyusul Kamis (1/10/2026), sebelum laporan ketenagakerjaan September dirilis Jumat (2/10/2026).
Rangkaian data tersebut akan menjadi perhatian investor untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed sekaligus menentukan apakah tekanan dari kenaikan yield obligasi AS masih akan membayangi Wall Street.