El Niño Ancam Produksi Padi Nasional, Luas Panen Diprediksi Turun

JAKARTA – Ancaman fenomena El Niño mulai membayangi sektor pertanian padi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa proporsi lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop pada Agustus 2026 tercatat hanya 28,07%. Angka ini relatif lebih rendah dibandingkan tahun-tahun yang dianggap normal, memberikan sinyal awal penurunan potensi luas panen dalam tiga bulan ke depan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pola yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi pada tahun 2023 ketika Indonesia juga menghadapi El Niño. “Kalau kita bandingkan dengan 2023, pada saat itu kita juga mengalami El Niño. Jadi, kondisi Agustus 2026 ini relatif mirip dengan kondisi Agustus 2023,” ujar Ateng dalam konferensi pers BPS di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Konsep standing crop menggambarkan proporsi lahan hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) yang sedang ditumbuhi tanaman padi, mulai dari fase vegetatif awal, vegetatif akhir, hingga generatif. Oleh karena itu, perkembangan indikator ini dapat memberikan gambaran mengenai potensi panen dalam beberapa bulan berikutnya.

Ateng merinci, penurunan proporsi standing crop mengindikasikan bahwa luas pertanaman padi yang berada pada fase sebelum panen juga mengalami penurunan. “Kondisi ini tentunya berpotensi diikuti penurunan potensi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya,” katanya.

Sinyal penurunan tersebut mulai terlihat pada proyeksi panen untuk periode September–November 2026. Berdasarkan hasil KSA Agustus, BPS memperkirakan luas panen padi selama tiga bulan tersebut hanya akan mencapai 2,23 juta hektare. Angka ini turun sekitar 0,33 juta hektare atau 12,97% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.

Jika dilihat secara bulanan, potensi luas panen juga menunjukkan tren penyusutan. Luas panen diproyeksikan sekitar 1,01 juta hektare pada September, kemudian menurun menjadi 0,73 juta hektare pada Oktober, dan hanya 0,50 juta hektare pada November. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama di tahun 2025, luas panen masing-masing tercatat sekitar 1,13 juta, 0,86 juta, dan 0,57 juta hektare.

Penyusutan luas panen ini diprediksi akan berdampak pada total produksi. BPS memperkirakan produksi padi pada September–November 2026 akan mencapai 12,24 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini turun sekitar 1,66 juta ton atau 11,96% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada periode tersebut juga diperkirakan turun 11,95%, menjadi 7,06 juta ton.

Menurut Ateng, kondisi cuaca yang lebih kering turut memengaruhi aktivitas pertanaman. Musim kemarau yang berkaitan dengan El Niño membatasi kegiatan tanam di sejumlah sentra produksi padi, yang secara otomatis mengurangi pasokan gabah ke penggilingan. “Tentunya hal ini turut membatasi kegiatan untuk menanam dan juga terjadi di beberapa sentra produksi, sehingga pasokan gabah yang masuk ke penggilingan menjadi terhambat atau terbatas,” ungkapnya.

Tekanan pada pasokan ini mulai tercermin pada harga beras. Pada September 2026, harga beras di tingkat penggilingan dilaporkan naik 0,81% secara bulanan. Kenaikan juga terjadi di tingkat grosir sebesar 0,61%, dan di tingkat eceran meningkat 0,80%. Jika dilihat secara tahunan, kenaikan harga beras masing-masing mencapai 6,04% di tingkat penggilingan, 4,93% di tingkat grosir, dan 3,73% di tingkat eceran.

Meskipun demikian, BPS mengingatkan bahwa angka yang diproyeksikan untuk September–November ini masih merupakan potensi panen dan bukan realisasi final. Perkembangan di lapangan, seperti kondisi kekeringan, banjir, serangan organisme pengganggu tanaman, serta perubahan waktu panen, masih dapat memengaruhi angka tersebut. Oleh karena itu, pemantauan terhadap perkembangan standing crop dan kondisi cuaca dalam beberapa bulan mendatang menjadi krusial untuk mengukur sejauh mana dampak El Niño terhadap produksi padi nasional.

Tinggalkan komentar