Ekuitas Garuda (GIAA) Kembali Merugi di Semester I-2026

JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kembali melaporkan ekuitas negatif pada akhir semester I-2026. Posisi ini merupakan kemunduran setelah sempat mencatatkan ekuitas positif pada akhir tahun 2025 dan kuartal pertama 2026.

Hingga 30 Juni 2026, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar negatif US$163,0 juta. Angka ini menunjukkan pelebaran defisit dibandingkan posisi negatif US$39,3 juta pada 31 Desember 2025.

Sebelumnya, GIAA berhasil membalikkan ekuitas negatif menjadi positif pada tahun buku 2025. Dari semula negatif US$1,35 miliar, ekuitas perseroan melonjak menjadi positif US$44,4 juta. Posisi positif ini sempat bertahan hingga kuartal I-2026 dengan total ekuitas mencapai US$68,2 juta.

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebenarnya sudah kembali negatif pada kuartal I-2026, sebesar US$39,6 juta. Defisit ini sempat tertutupi oleh ekuitas kepentingan nonpengendali yang mencapai US$107,8 juta.

Kondisi pada semester I-2026 berbeda. Ekuitas negatif entitas induk yang mencapai US$163,0 juta kini melampaui ekuitas kepentingan nonpengendali sebesar US$110,8 juta. Akibatnya, total ekuitas GIAA kembali merugi sebesar US$52,2 juta per 30 Juni 2026 karena defisiensi modal.

Meskipun demikian, total liabilitas perseroan mengalami penurunan menjadi US$7,4 miliar dari sebelumnya US$7,6 miliar pada akhir tahun 2025.

Masih Rugi Setelah Suntikan Modal Jumbo

Terkait permodalan, Danantara Asset Management (DAM) yang dipimpin oleh Dony Oskaria telah melaksanakan restrukturisasi kedua terhadap Garuda Indonesia. Suntikan modal senilai US$1,4 miliar, atau setara Rp23 triliun, dilakukan pada kuartal IV-2025.

Sebanyak 37% dari penyertaan modal tersebut, atau sekitar Rp8,5 triliun, dialokasikan untuk modal kerja dan operasional. Dana ini termasuk untuk pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat melalui anak usaha, PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI).

Pasca-penyertaan modal tersebut, kerugian Garuda Indonesia menunjukkan tren penurunan. Kerugian menyempit dari US$76,4 juta pada kuartal I-2025 menjadi US$46,4 juta pada kuartal I-2026. Pada semester I-2026, rugi tercatat sebesar US$120,7 juta, lebih kecil dibandingkan US$147 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Garuda Indonesia juga mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026. Pada kuartal I-2026, total pendapatan tumbuh dari US$723,5 juta menjadi US$762,3 juta. Tren positif ini berlanjut hingga semester I-2026 dengan pendapatan mencapai US$1,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan US$1,5 miliar pada semester I-2025.

Pertumbuhan pendapatan ini disumbang oleh penerbangan berjadwal sebesar US$1,31 miliar, penerbangan tidak berjadwal sebesar US$272,7 juta, dan bisnis lainnya sebesar US$209,2 juta. Pendapatan dari semua lini bisnis GIAA menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut diikuti oleh kenaikan beban usaha menjadi US$1,74 miliar dari sebelumnya US$1,50 miliar. Operasional penerbangan serta pemeliharaan dan perbaikan menjadi dua komponen beban terbesar Garuda.

Dari sisi aset, maskapai pelat merah ini membukukan penurunan total aset dari US$7,6 miliar per 31 Desember 2025 menjadi US$7,4 miliar pada semester I-2026. Total aset tersebut terdiri dari aset lancar sebesar US$1,2 miliar dan aset tidak lancar sebesar US$6,1 miliar.

Harapan Kembali Untung pada 2027

Presiden RI Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (14/8/2026), menyatakan tekadnya untuk membawa perusahaan BUMN penerbangan ini kembali meraih keuntungan pada 2027.

Prabowo mengakui bahwa Garuda Indonesia nyaris dipailitkan akibat puluhan pesawatnya yang tidak dapat terbang atau ‘grounded’. Namun, pesawat-pesawat tersebut kini telah berhasil direaktivasi, sehingga Garuda memiliki total 140 armada setelah mengaktifkan kembali 20 armada.

Ia juga tidak memungkiri bahwa Garuda telah mengalami kerugian selama bertahun-tahun, namun kini mulai terlihat adanya harapan untuk berbalik untung. Menurut Prabowo, jika tidak terjadi perang di Timur Tengah belakangan ini, Garuda sebenarnya sudah bisa mencatatkan keuntungan pada Juli 2026. “Kita sekarang berharap, di awal 2027 mereka (Garuda) sudah mulai untung,” tegasnya.

Tinggalkan komentar