Jakarta – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) telah menyelenggarakan program edukasi kesehatan lingkungan bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama di Tempirai Selatan. Kegiatan ini mencakup pengenalan perilaku hidup bersih dan sehat melalui media interaktif seperti kartu permainan, poster, dan modul bergambar.
Selain itu, para siswa juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya memilah dan mengolah sampah, serta pencegahan stunting dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat. Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari para guru dan murid, yang melihatnya sebagai cara efektif untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Yeni, seorang guru SDN 2 Penukal Utara, menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. “Saya sangat mendukung adanya program ini karena tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa untuk peduli pada lingkungan sekitar,” ujarnya.
Program edukasi ini dilaksanakan mengingat tantangan akses air bersih dan pengelolaan sampah yang masih dihadapi oleh warga transmigran di Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan. Kondisi ini rentan menyebabkan anak-anak terserang berbagai penyakit, termasuk diare, cacingan, dan infeksi kulit.
Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap metode pembelajaran yang diterapkan. Kharir, salah satu siswa SDN 3 Penukal Utara yang berasal dari kawasan transmigrasi, mengaku senang dengan pengalaman belajar sambil bermain. “Kelas belajarnya seru karena aku bisa belajar sambil bermain. Terima kasih kakak-kakak TEP Undip, tetap semangat untuk mengajar,” tuturnya.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot Undip, Yusniar Hanani, menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 120 siswa dari dua sekolah di kawasan transmigrasi. Melalui aktivitas interaktif, mereka belajar bersama tentang pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan sejak dini.
“Dalam program ini, kami menghadirkan modul pencegahan penyakit berbasis lingkungan hingga stunting. Kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga praktik interaktif menggunakan media seperti flashcard agar siswa dapat langsung mencocokkan jawaban serta berkomitmen menjaga lingkungannya,” papar Yusniar.
Kegiatan ini sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya pemahaman lingkungan hidup sejak dini di sekolah. Presiden Prabowo menekankan pentingnya mengajarkan generasi muda untuk tidak merusak lingkungan, seperti membakar atau menebang pohon sembarangan, saat memimpin rapat penanganan bencana gempa di NTT.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga menyoroti pentingnya tindak lanjut konkret dari temuan lapangan Tim Ekspedisi Patriot. “Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal,” katanya saat berdialog dengan peserta ekspedisi di Jayapura.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan perlunya pengembangan kawasan transmigrasi yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan budaya masyarakat setempat. “Pembangunan kawasan harus berkelanjutan. Tidak ada yang instan. Pembangunan juga tidak boleh mengabaikan lingkungan dan budaya masyarakat setempat,” pungkasnya saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin.