JAKARTA – PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) bersiap melakukan perombakan besar-besaran. Perusahaan yang bergerak di bidang periklanan digital ini akan bertransformasi menjadi sebuah holding yang terintegrasi dengan ekosistem kecerdasan buatan (AI). Transformasi ini diinisiasi oleh pemegang saham pengendali baru, PT Sinergi Internasional Investama (SII).
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai langkah DOOH ini sebagai salah satu perubahan arah bisnis paling ambisius yang terjadi di bursa saham tahun ini. Menurutnya, skala akuisisi yang direncanakan bahkan melebihi ekuitas DOOH saat ini.
Melalui anak usahanya, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), DOOH berencana mengakuisisi 29,88% saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Akuisisi ini melibatkan 6,685 miliar saham dengan harga Rp 300 per saham, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 2 triliun. Transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material sangat signifikan karena setara 647,9% dari total ekuitas konsolidasian DOOH per 30 Juni 2026.
Integrasi INET akan difokuskan pada pembangunan lima pilar utama. Kelima pilar tersebut meliputi data center AI, konektivitas berkecepatan tinggi, jaringan serat optik darat, jaringan serat optik bawah laut, serta energi hijau yang didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Untuk mendukung ekspansi masif ini, SII akan menyediakan fasilitas pinjaman pemegang saham hingga Rp 5 triliun. Pinjaman ini memiliki tenor 10 tahun dengan bunga 7,5% per tahun. Dana awal sebesar Rp 2 triliun akan digunakan untuk membiayai pengambilalihan saham INET.
Selain itu, DOOH juga berencana mengalihkan sisa dana hasil Penawaran Umum Perdana (IPO) sebesar Rp 120 miliar menjadi setoran modal ke CNI. Perusahaan juga akan menggelar aksi penawaran umum terbatas (rights issue) dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 154,77 miliar saham baru yang akan disertai dengan warrant seri II.
“Struktur pendanaan ini menunjukkan keseriusan SII dalam membiayai transformasi DOOH,” ujar Jason. Namun, ia mencatat bahwa perusahaan belum memaparkan secara rinci kapasitas data center maupun PLTS. Hal ini membuat valuasi keseluruhan ekosistem baru menjadi sulit dihitung.
Seluruh rangkaian aksi korporasi ini akan diajukan untuk persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 9 November 2026.
Target Harga Saham DOOH
Dari perspektif teknikal, Jason mematok target harga saham DOOH di angka Rp 400. Ia menilai area akumulasi yang menarik berada pada kisaran psikologis Rp 300 hingga Rp 320.
“Kami melihat target Rp 400 dengan area akumulasi menarik di kisaran psikologis Rp 300 hingga Rp 320, dan stop loss disiplin di bawah Rp 290,” jelas Jason. Ia menekankan pentingnya batas risiko ini mengingat volatilitas tinggi yang lazim menyertai saham yang sedang menjalani transformasi bisnis berskala besar.
Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), saham DOOH tercatat melonjak 5,7% ke level Rp 366. Dalam sepekan terakhir, saham DOOH menguat 0,5%, dan dalam sebulan terakhir mengalami kenaikan sebesar 12,2%. Secara year-to-date (ytd), saham DOOH telah melesat 30,7%.