Danantara Indonesia menyatakan kesiapannya untuk mendukung pengembangan bahan bakar ramah lingkungan berbasis etanol, yang dikenal sebagai E20. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperkuat ketahanan energi melalui penerapan program biodiesel B50. Keberhasilan program B50 dalam menekan impor solar menjadi pijakan untuk pengembangan energi terbarukan selanjutnya, yang kini diarahkan pada bahan bakar bensin.
“Dengan B50, sehingga kita sudah tidak lagi impor solar. Ke depan kita harapkan juga sama dengan bensin,” ujar Dony dalam keterangannya di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta, Jumat (3/10/2026). Ia menambahkan bahwa salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pengembangan bensin campuran etanol atau E20, yaitu bahan bakar dengan kandungan 20% etanol.
Pengembangan E20 ini menjadi bagian dari upaya mencapai kemandirian energi sekaligus menekan volume impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Dony menyebutkan bahwa sejumlah negara telah berhasil mengembangkan bahan bakar dengan campuran etanol hingga E50, sementara Indonesia akan memulai secara bertahap melalui E20.
Untuk memastikan ketersediaan bahan baku produksi etanol, pemerintah akan mendorong peningkatan penanaman tebu. Molase atau tetes tebu merupakan salah satu bahan baku utama yang dapat dimanfaatkan untuk produksi etanol. Ke depannya, investasi akan difokuskan pada pembangunan pabrik etanol untuk membangun ekosistem etanol yang mencakup sisi hulu hingga hilir.
“Kita harapkan nanti pemerintah akan berharap dalam tiga tahun ke depan sudah selesai investasi yang kita lakukan,” pungkasnya, menandakan komitmen untuk menyelesaikan investasi dalam pengembangan etanol dalam tiga tahun mendatang.