JAKARTA – Dalam era baru pengelolaan aset negara, pertanyaan krusial muncul mengenai tujuan utama pengelolaan kekayaan negara. Pertumbuhan nilai aset, peningkatan keuntungan, atau ekspansi investasi saja tidak cukup. Kekayaan negara seharusnya menjadi kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan membangun fondasi ekonomi yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
Gagasan pembangunan hijau dan berkelanjutan menjadi sangat relevan di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan terhadap ekosistem, kebutuhan energi yang meningkat, transformasi teknologi, serta perubahan struktur perdagangan global. Pembangunan infrastruktur masa depan tidak lagi dapat diukur hanya dari kuantitas fisik, melainkan juga dari kontribusinya dalam mengurangi emisi, menghemat energi, ketahanan terhadap perubahan iklim, penciptaan pekerjaan hijau, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Artikel ini akan mengupas infrastruktur berkelanjutan yang mencakup empat dimensi: ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola. Infrastruktur yang baik adalah yang memberikan manfaat jangka panjang dengan dampak lingkungan minimal. Dalam kerangka ini, Danantara dapat memainkan peran strategis, salah satunya melalui ekosistem pelabuhan Pelindo.
Pelabuhan Lebih dari Sekadar Tempat Kapal Bersandar
Pandangan tradisional yang melihat pelabuhan hanya sebagai tempat bongkar muat kapal kini terlalu sempit. Pelabuhan modern adalah simpul berbagai aktivitas ekonomi, mencakup perdagangan, industri, energi, logistik, transportasi, pergudangan, manufaktur, kawasan industri, hingga ekonomi masyarakat pesisir.
Teori port-city nexus menjelaskan bahwa pelabuhan terintegrasi dengan ekosistem kota dan kawasan ekonomi sekitarnya. Kualitas pelabuhan memengaruhi rantai pasok, daya saing industri, mobilitas barang, konsumsi energi, dan kualitas lingkungan masyarakat.
UNCTAD menempatkan pelabuhan sebagai bagian penting dalam transformasi energi dan digital. Pelabuhan yang merupakan konsumen energi besar dan sumber emisi, memiliki peran krusial dalam transisi energi, digitalisasi, dan penguatan ketahanan. Dengan demikian, pelabuhan berpotensi menjadi laboratorium pembangunan hijau terbesar di Indonesia.
Danantara memiliki peluang membawa gagasan ini dari sekadar program lingkungan perusahaan menjadi strategi investasi nasional.
Dari Green Port Menuju Green Economic Hub
Konsep green port generasi baru harus berkembang menjadi green economic hub. Ini berarti pelabuhan menjadi pusat pertemuan energi bersih, logistik rendah karbon, digitalisasi, ekonomi sirkular, industri hijau, dan pemberdayaan masyarakat. Pelindo sendiri telah memiliki dasar untuk mewujudkan hal tersebut.
Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, Pelindo melaporkan penggunaan On-Shore Power Supply (OPS) di Tanjung Priok, pengembangan PLTS berkapasitas 1.268 kWp, serta pemanfaatan teknologi hibrida berbasis baterai. Penggunaan OPS saat ini dapat mengurangi konsumsi bahan bakar kapal sekitar 30–33%.
Peluncuran layanan OPS di Tanjung Priok pada September 2026 diperkirakan dapat mengurangi emisi gas buang kapal hingga 75% dan emisi lokal lainnya. Fondasi transformasi ini sudah ada, yang dibutuhkan adalah scale-up. Danantara dapat berperan sebagai pengarah modal, katalis investasi, dan pembangun ekosistem.
Danantara sebagai Green Capital Allocator
Teori sustainable finance mengubah cara pandang terhadap modal. Modal tidak hanya instrumen keuntungan finansial, tetapi juga alat pengelolaan risiko jangka panjang. Sovereign wealth funds seperti Danantara memiliki peran penting dalam transisi rendah karbon melalui investasi pada aset rendah karbon dan teknologi bersih.
Setiap investasi strategis harus dinilai tidak hanya dari potensi return, tetapi juga dari emisi, risiko iklim, dampak sosial, pengaruh terhadap biodiversitas, dan kontribusinya terhadap ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Ini adalah paradigma long-term value creation.
Bayangkan jika dalam satu dekade ke depan, pelabuhan strategis Pelindo bertransformasi menjadi pusat energi bersih. Atap terminal dipenuhi panel surya, peralatan bongkar muat beralih ke tenaga listrik, kendaraan operasional rendah emisi, kapal menggunakan listrik darat, sistem digital mengatur pergerakan untuk menekan waktu tunggu, limbah kapal dikelola terintegrasi, air hujan dimanfaatkan, mangrove menjadi bagian perlindungan kawasan, dan data energi dipantau real-time. Kawasan pelabuhan bahkan dapat terhubung dengan industri sekitar dalam sistem industrial symbiosis.
Pelabuhan Harus Menjadi Infrastruktur yang Climate-Resilient
Infrastruktur masa depan harus climate-resilient, mampu menghadapi dampak perubahan iklim seperti kenaikan muka air laut, gelombang ekstrem, banjir rob, badai, dan gangguan rantai pasok. Investasi Danantara di sektor kepelabuhanan harus memasukkan climate risk assessment sebagai bagian dari keputusan investasi.
Dermaga dan gudang harus dirancang mempertimbangkan kondisi iklim masa depan dan risiko banjir. Sistem kelistrikan dan jalur logistik harus memiliki ketahanan dan alternatif saat bencana. Pelabuhan hijau harus sekaligus menjadi pelabuhan tangguh.
Aspek manusia juga krusial. Teknologi baru membutuhkan keterampilan baru. Operator mesin diesel harus memahami elektrifikasi, teknisi menguasai sistem kelistrikan, dan tenaga kerja harus memahami digitalisasi. Teori just transition menekankan bahwa transisi hijau harus menjadi kesempatan menciptakan green jobs.
Danantara bersama Pelindo dapat membangun Green Maritime Skills Program untuk meningkatkan kompetensi pekerja pelabuhan dalam elektrifikasi, energi terbarukan, otomasi, digitalisasi, dan pengelolaan lingkungan. Transformasi hijau adalah transformasi mesin sekaligus manusia.
Pelabuhan sebagai Titik Awal Ekonomi Hijau Nasional
Pelabuhan memiliki efek pengganda yang besar. Efisiensi pelabuhan berdampak pada transportasi darat, pergudangan, industri, perdagangan, dan konsumen. Pengurangan energi fosil di pelabuhan mendorong perubahan pada rantai pasok.
Penyediaan infrastruktur energi bersih di pelabuhan memberikan insentif bagi kapal dan industri sekitar untuk bertransisi. Sistem digital menekan emisi dan biaya logistik. Pelabuhan dapat menjadi anchor institution bagi ekonomi hijau di daerah.
Danantara dapat membangun model yang direplikasi. Tanjung Priok bisa menjadi laboratorium. Pelabuhan di kawasan industri dapat menjadi pusat energi dan logistik hijau. Pelabuhan di Indonesia Timur dapat dikembangkan dengan pendekatan renewable-based infrastructure. Pelabuhan dekat ekosistem pesisir sensitif dapat menggunakan nature-based solutions. Prinsipnya adalah one national standard, different local solutions.
Menghubungkan Pelabuhan dengan Agenda Energi Bersih Danantara
Agenda perdagangan listrik rendah karbon Indonesia–Singapura, yang menargetkan pengembangan hingga 3,4 GW pada 2035, semakin relevan. Jika dikaitkan dengan pelabuhan, terbuka ekosistem yang lebih besar: pelabuhan sebagai generator energi, pengguna energi bersih, distributor, pusat logistik, hingga pusat industri hijau.
Masa Depan Tidak Hanya Hijau, tetapi Juga Inklusif
Pembangunan berkelanjutan harus memperhatikan inklusi, kesetaraan, akses masyarakat, penciptaan lapangan kerja lokal, dan partisipasi masyarakat. Prinsip ini harus menjadi jiwa transformasi pelabuhan.
Masyarakat pesisir, pekerja pelabuhan, dan pelaku UMKM di sekitar kawasan pelabuhan harus mendapatkan ruang. Generasi muda harus memiliki akses terhadap pekerjaan baru. Lingkungan harus diperlakukan sebagai aset ekonomi jangka panjang.
Ini adalah makna sesungguhnya dari just and sustainable development.
Penutup: Memulai dari Pelabuhan
Indonesia sebagai negara kepulauan menjadikan laut sebagai penghubung. Pelabuhan adalah pintu yang menghubungkan sumber daya Indonesia dengan pasar domestik dan global. Transformasi pelabuhan menjadi prioritas strategis untuk membangun ekonomi hijau yang berdaya saing global.
Danantara memiliki kemampuan mengarahkan modal jangka panjang dan menghubungkan aset strategis negara. Keberhasilan SWF tidak hanya bergantung pada kapasitas finansial, tetapi pada integrasi hukum lingkungan, transparansi, akuntabilitas, audit independen, dan partisipasi masyarakat.
Masa depan Danantara diukur dari nilai tambah ekonomi yang diciptakan, emisi yang berhasil dikurangi, ekosistem yang dipulihkan, pekerjaan hijau yang tercipta, dan ketangguhan ekonomi Indonesia menghadapi perubahan iklim.
Jika Pelindo menjadi percontohan transformasi, pelabuhan Indonesia dapat berubah dari gerbang perdagangan menjadi gerbang ekonomi hijau. Dari gerbang-gerbang itulah Indonesia membangun masa depan yang lebih kaya, bersih, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan yang meninggalkan nilai bagi generasi berikutnya.
*) Komisaris PT Pelindo (Persero)