PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) atau Chandra Asri Group mengumumkan ekspansi bisnisnya ke kawasan regional, melanjutkan tradisi lebih dari tiga dekade dalam membangun fondasi industri di Indonesia. Langkah ekspansi ini dijalankan seiring dengan investasi baru di dalam negeri, pengembangan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan talenta sumber daya manusia yang berbasis di Indonesia.
Selama 34 tahun, Chandra Asri telah menjadi pionir dalam industri petrokimia di Cilegon, Banten. Perusahaan ini mencatatkan sejarah sebagai yang pertama mengoperasikan naphtha cracker di Indonesia, menghasilkan beragam bahan baku krusial bagi berbagai sektor industri nasional.
Produk-produk utama yang dihasilkan meliputi ethylene, propylene, polyethylene, polypropylene, styrene monomer, hingga butadiene. Bahan-bahan tersebut menjadi komponen vital dalam rantai pasok industri yang luas, mencakup sektor kemasan, otomotif, konstruksi, elektronik, plastik, hingga produk kebutuhan sehari-hari.
Seiring pertumbuhan usahanya, Chandra Asri bertransformasi, tidak lagi hanya berfokus pada penyediaan bahan baku industri. Perseroan kini mengembangkan tiga pilar bisnis utama: energi dan kimia, infrastruktur terintegrasi, serta solusi mobilitas. Transformasi ini tetap menempatkan Indonesia sebagai basis utama pertumbuhan grup.
Investasi Domestik dan Proyek Strategis
Salah satu wujud investasi domestik terbaru adalah pembangunan fasilitas chlor alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) di Cilegon melalui PT Chandra Asri Alkali (CAA). Proyek dengan nilai investasi lebih dari US$ 800 juta ini telah mencapai progres pembangunan 80% per Juli 2026 dan ditargetkan memulai operasi komersial pada 2027.
Fasilitas CA-EDC dirancang untuk memproduksi lebih dari 400 kiloton per annum (KTA) kaustik soda kering dan 500 KTA ethylene dichloride (EDC). Kaustik soda akan dipasok untuk pasar domestik, sementara EDC ditujukan bagi pasar regional.
Pembangunan fasilitas CA-EDC merupakan bagian dari strategi Chandra Asri untuk memperkuat pasokan bahan kimia dasar bagi industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor. Proyek ini juga diharapkan dapat mendorong penguatan industri hilir, termasuk pengolahan nikel dan alumina, serta sektor sabun dan detergen.
Analisis IHS Markit 2022 memproyeksikan pasar Indonesia akan mengalami defisit soda kaustik sebesar 462 KTA pada 2026. Di sisi lain, produksi EDC di Asia Tenggara masih jauh di bawah permintaan regional, dengan kekurangan setara 80% dari total kebutuhan kawasan yang diprediksi meningkat menjadi sekitar 90% dalam beberapa tahun ke depan.
Chandra Asri memperkirakan pabrik CA-EDC dapat membantu memenuhi kebutuhan chlor-alkali nasional serta kebutuhan EDC di Asia Tenggara mulai 2027. Pabrik ini juga diposisikan sebagai pendorong pertumbuhan industri hilir dan penguatan ketahanan industri kimia Indonesia.
Dampak Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja
Investasi pada proyek CA-EDC tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas produksi. Selama masa konstruksi, proyek ini telah menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Setelah fasilitas beroperasi penuh, perusahaan memproyeksikan penciptaan sekitar 250 lapangan kerja baru.
Presiden Direktur Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyatakan bahwa perjalanan perusahaan selama lebih dari tiga dekade tidak terlepas dari perkembangan kebutuhan industri di Indonesia. “Selama 34 tahun, kami telah tumbuh bersama Indonesia. Kami memulai perjalanan dengan membangun kapasitas petrokimia nasional dan melayani industri melalui produk-produk yang kami hasilkan. Seiring waktu, kebutuhan Indonesia juga berkembang, dan kami pun terus membangun kapabilitas baru melalui diversifikasi bisnis,” kata Erwin.
Ekspansi Regional dan Diversifikasi Bisnis
Chandra Asri juga memperluas jangkauan bisnisnya di tingkat regional. Akuisisi Aster Chemicals and Energy atau Aster memperkuat pijakan perusahaan di sektor energi dan kimia. Sementara itu, integrasi jaringan Esso di Singapura menambah pengalaman Grup dalam mengelola bisnis energi serta jaringan ritel bahan bakar.
Melalui Aster, Chandra Asri kini memiliki kapabilitas dalam penyediaan produk petroleum seperti bensin, bahan bakar jet, gas oil, dan bitumen. Pengalaman operasional regional ini dinilai dapat memperkuat pengelolaan energi, rantai pasok, operasional, serta layanan kepada pelanggan di dalam ekosistem grup.
Pengembangan bisnis juga dilakukan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang berfungsi sebagai platform infrastruktur grup. Portofolio CDIA mencakup penyediaan daya, air industri, kepelabuhanan, penyimpanan, dan logistik.
Langkah ini memperluas posisi Chandra Asri dalam rantai nilai industri. Dari awalnya berperan sebagai penyedia bahan baku, kini grup juga membangun infrastruktur yang menopang pergerakan barang, penyimpanan, utilitas, dan kebutuhan operasional industri.
Penguatan bisnis regional turut didukung oleh pengembangan fungsi strategis di Indonesia melalui PT Chandra Asri Sentral Solusi (CASS). Entitas ini mendukung operasional perusahaan grup di Singapura melalui pengembangan proses yang lebih terintegrasi dan terstandardisasi, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan operational excellence.
Peluang Talenta Indonesia di Kancah Regional
Keberadaan CASS juga membuka peluang kerja dan pengembangan karier bagi tenaga profesional Indonesia. Dengan mendukung operasional Grup dari Indonesia, talenta dalam negeri mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan lingkungan bisnis regional, sekaligus membangun kompetensi yang dapat memperkuat kapabilitas grup secara keseluruhan.
Erwin Ciputra menambahkan bahwa pertumbuhan di kawasan merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. “Ketika bisnis kami berkembang di kawasan, Chandra Asri Group membuka peluang bagi talenta Indonesia, membawa kapabilitas Indonesia ke pasar regional, dan menciptakan manfaat yang dapat kembali memperkuat basis bisnis kami di Indonesia,” ujarnya.
Dengan pendekatan ini, ekspansi regional tidak menggantikan investasi domestik. Indonesia tetap menjadi basis utama Chandra Asri untuk mengembangkan fasilitas industri, menciptakan lapangan kerja, membangun talenta, dan memperkuat ekosistem usaha. Pertumbuhan di kawasan dimanfaatkan untuk memperbesar jaringan, kapabilitas, dan pengalaman bisnis grup secara global.