PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berada di garis depan dalam menangkap peluang dari kebijakan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi batu bara menjadi bahan bakar minyak (BBM). Kesiapan ini didukung oleh proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang sedang berjalan melalui dua anak usahanya, KPC dan Arutmin, di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menargetkan Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan sebagai pusat pengembangan batu bara berkalori rendah untuk diubah menjadi BBM, termasuk bensin dan solar. Menurut Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, Bumi Resources memiliki posisi yang lebih maju karena proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kutai Timur, telah mencapai tahap yang konkret.
Proyek yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) ini digarap oleh KPC dan Arutmin. Peletakan batu pertama proyek ini dilakukan oleh Wakil Menteri ESDM pada 31 Agustus 2026, dengan target commissioning pada tahun 2029. Metanol yang dihasilkan dari proses gasifikasi nantinya dapat digunakan sebagai bahan campuran BBM. “Dengan proyek yang sudah berjalan, BUMI memiliki eksposur langsung terhadap agenda hilirisasi batu bara yang tengah dipercepat pemerintah,” ujar Jason.
Namun, Jason juga mengingatkan bahwa pengembangan hilirisasi tetap menghadapi sejumlah risiko, termasuk eksekusi konstruksi, kepastian penyerapan produk atau *offtake*, kebutuhan belanja modal yang besar, serta ketergantungan pada dukungan kebijakan dan pendanaan.
PT Bukit Asam Juga Bersiap
Selain Bumi Resources, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga memiliki inisiatif hilirisasi batu bara melalui proyek menjadi *dimethyl ether* (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini direncanakan bersama MIND ID dan Pertamina atas inisiasi Danantara, dengan tahap konstruksi yang ditargetkan dimulai pada 2027.
Meskipun demikian, Jason menilai bahwa kebijakan hilirisasi secara keseluruhan masih berada pada tahap awal. Pemerintah belum merilis daftar proyek definitif, nilai investasi, maupun linimasa yang mengikat untuk seluruh proyek di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, sebelumnya menyatakan bahwa beberapa proyek di Kalimantan Timur telah mulai berjalan, dan Sumatera Selatan juga dipertimbangkan karena memiliki cadangan batu bara yang besar.
Presiden Prabowo Subianto pernah menyampaikan aspirasi pemerintah untuk memperluas hilirisasi energi, menyusul pengembangan bahan bakar berbasis kelapa sawit. “Kita juga nanti akan bikin bensin dari batu bara,” ujar Prabowo di Ponorogo, Jawa Timur, pada pertengahan September. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan kesiapan kementeriannya untuk menindaklanjuti arahan tersebut guna memperkuat ketahanan energi nasional.