BPS Proyeksikan Pasokan Beras Menipis, Harga Berpotensi Terus Naik

JAKARTA – Tekanan pada harga beras diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Setelah harga beras terpantau naik di seluruh rantai perdagangan pada September 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan luas panen dan produksi padi pada periode September hingga November tahun ini akan mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan harga beras di bulan September terutama disebabkan oleh berkurangnya pasokan pasca berakhirnya masa puncak panen raya. Kondisi kekeringan yang lebih intens akibat fenomena El Niño juga mulai berdampak pada aktivitas pertanaman di beberapa sentra produksi padi.

“Tentunya hal ini turut membatasi kegiatan untuk menanam dan juga terjadi di beberapa sentra produksi, sehingga pasokan gabah yang masuk ke penggilingan menjadi terhambat atau terbatas,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

BPS mencatat bahwa kenaikan harga beras terjadi mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga konsumen. Pada September 2026, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik sebesar 0,81% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 6,04% secara tahunan (year-on-year/yoy). Di tingkat grosir, harga beras meningkat 0,61% (mtm) dan 4,93% (yoy). Sementara itu, di tingkat eceran, harga naik 0,80% (mtm) dan 3,73% (yoy).

Tekanan terhadap pasokan diperkirakan akan terus berlanjut. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, BPS memproyeksikan luas panen padi pada September–November 2026 hanya mencapai 2,23 juta hektare. Angka ini berkurang sekitar 0,33 juta hektare atau turun 12,97% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan perkembangan tersebut, luas panen padi dari Januari hingga November 2026 diperkirakan mencapai 10,56 juta hektare, yang merupakan penurunan 2,98% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Penurunan luas panen ini akan berdampak pada penyusutan produksi. Potensi produksi padi sepanjang September–November 2026 diproyeksikan hanya sebesar 12,24 juta ton gabah kering giling (GKG), yang berarti turun 1,66 juta ton atau 11,96% secara year-on-year. Secara kumulatif, produksi padi dari Januari hingga November 2026 diperkirakan mencapai 56,13 juta ton GKG, menurun 2,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tren serupa juga terlihat pada produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk. BPS memperkirakan produksi beras pada September–November 2026 hanya mencapai 7,06 juta ton, turun sekitar 0,96 juta ton atau 11,95% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dengan demikian, total produksi beras dari Januari hingga November 2026 diperkirakan sebesar 32,34 juta ton, mengalami penurunan 2,82% secara tahunan.

Sinyal penurunan panen sebenarnya telah terlihat dari kondisi pertanaman. Hasil KSA Agustus menunjukkan proporsi lahan yang sedang dalam fase tanaman padi (standing crop) hanya sebesar 28,07%. Angka ini relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata Agustus pada tahun-tahun normal, bahkan lebih rendah dibandingkan Agustus 2023 saat El Niño terjadi, yang mencapai 29,79%.

Menurut Ateng, rendahnya proporsi lahan dalam fase standing crop perlu dicermati lebih lanjut karena menggambarkan lebih sedikitnya tanaman padi yang sedang dalam fase menuju panen. “Penurunan luas standing crop mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada pada fase sebelum panen, yaitu fase vegetatif awal, vegetatif akhir, dan generatif. Kondisi ini tentunya berpotensi diikuti penurunan potensi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya,” jelasnya.

Meskipun demikian, BPS menegaskan bahwa proyeksi untuk periode September–November tersebut masih bersifat potensi dan dapat berubah mengikuti kondisi di lapangan. Realisasi panen akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga keputusan petani mengenai waktu pelaksanaan panen.

Beras sendiri telah menjadi salah satu komoditas yang mendorong inflasi pada September. BPS mencatat inflasi nasional sebesar 0,30% secara bulanan dan 3,28% secara tahunan, dengan tekanan terbesar berasal dari kelompok pangan. Oleh karena itu, perkembangan produksi dan pasokan beras dalam tiga bulan ke depan menjadi krusial untuk dicermati, terutama mengingat harga komoditas ini telah menunjukkan tren kenaikan sejak dari tingkat penggilingan hingga konsumen.

Tinggalkan komentar