10 Kandidat Unggulan DPD RI Awards 2026 untuk Pelestari Budaya Daerah

Jakarta – Tim panitia pemilihan DPD RI Awards 2026 telah mengumumkan 10 nama kandidat untuk kategori Pelestari Budaya Daerah. Para nomine ini dipilih atas dedikasi mereka dalam upaya melestarikan serta mempromosikan berbagai kebudayaan dan kesenian Indonesia hingga dikenal luas di kancah internasional.

Penghargaan ini, menurut penjelasan DPD RI, ditujukan bagi individu yang menunjukkan inovasi dalam pengembangan dan pelestarian budaya daerah. Mereka juga berperan aktif dalam mempromosikan warisan budaya di tingkat nasional maupun global.

Para Kandidat Pelestari Budaya Daerah DPD RI Awards 2026

Berikut adalah 10 kandidat yang masuk dalam daftar nominasi, diurutkan berdasarkan abjad:

1. Alfonsa Raga Horeng

Alfonsa Raga Horeng adalah sosok di balik Sentra Tenun Lepo Lorun di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia tidak hanya menjadi pelestari dan penggerak utama, tetapi juga mendirikan sentra ini untuk memberdayakan perempuan dalam menjaga warisan budaya tenun ikat tradisional. Gagasannya berfokus pada pelestarian budaya sekaligus menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan bagi para perempuan. Melalui budidaya bahan baku seperti kapas dan pewarna alam, serta penyediaan layanan edukasi wisata, Alfonsa mengajarkan keterampilan menenun, pewarnaan alami, hingga pemeliharaan kualitas kain. Ia juga mengedukasi makna filosofis setiap motif dan memberikan pelatihan desain agar produk tradisional tetap relevan dengan pasar tanpa kehilangan identitasnya. Pembentukan kelompok usaha perempuan bertujuan mengorganisasi produksi dan pemasaran, sekaligus mengintegrasikan tenun dengan pariwisata budaya.

2. Anitawati

Anitawati dikenal sebagai pegiat budaya yang memimpin revitalisasi Tenun Tidore (Puta Dino Kayangan), sebuah warisan yang sempat hilang lebih dari satu abad. Berbekal riset arsip sejarah dan penelusuran jejak penenun, ia berhasil merekonstruksi teknik, motif, serta filosofi tenun sebagai identitas budaya Kesultanan Tidore. Melalui pelatihan menenun, pendampingan usaha, dan pemberdayaan berbagai kelompok masyarakat, Anitawati tidak hanya melestarikan warisan budaya tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif. Ia mengembangkan motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands, menjadikan tenun sebagai media edukasi sejarah dan diplomasi budaya. Karyanya telah tampil di berbagai ajang internasional seperti Indonesia New York Fashion Week (2022), serta pameran di Kyoto, Cape Town, Paris, dan Rabat, bahkan menembus pasar ekspor Jerman.

3. Cletus Beru

Cletus Beru merupakan pelopor dan pelestari budaya di Desa Umauta, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini berkembang menjadi desa wisata. Ia memelopori model wisata budaya berbasis masyarakat adat dengan mengedepankan gotong royong dan pariwisata berkelanjutan. Cletus menghubungkan budaya dengan ekonomi kreatif desa dan aktif memperjuangkan perhatian pemerintah untuk desa wisata budaya di Sikka. Dedikasinya membawa Desa Umauta masuk dalam 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 dan 50 Besar ADWI 2022.

4. Endang Dzunuraini

Endang Dzunuraini adalah pendiri Sanggar Mbah Guru di Lamongan, Jawa Timur, sebuah pusat komunitas pelestarian batik yang memberdayakan perempuan pedesaan dan seniman lokal. Sanggar ini berhasil menghidupkan kembali pengrajin batik desa yang sempat punah. Endang menyediakan wisata edukasi membatik dan kunjungan ke kebun pewarna alam yang memiliki sekitar 100 jenis tanaman penghasil warna alam. Sanggar Mbah Guru memproduksi batik dengan pewarna alami yang dapat diregenerasi dan mengolah limbah pertanian menjadi pewarna. Melalui sanggarnya, Endang memberdayakan perempuan desa, berkontribusi dalam mengurangi pernikahan dini, KDRT, dan perceraian akibat masalah ekonomi.

5. Juwandi

Juwandi berperan besar dalam menjadikan Desa Budaya Bukit Batu di Kabupaten Bengkalis, Riau, sebagai pusat pelestarian budaya Melayu. Ia menggerakkan generasi muda untuk menjaga dan mengembangkan budaya Melayu. Berbagai tradisi, seni, dan sejarah lokal dihidupkan melalui kolaborasi Pentahelix, meliputi Festival Budaya Bukit Batu, pengembangan Kampung Tenun, pertunjukan seni Melayu, diskusi sejarah, pembentukan sanggar, serta pelibatan masyarakat luas. Gerakan ini menjadikan budaya sebagai sumber kebanggaan, kreativitas, pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi. Tenun Bukit Batu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022. Desa ini juga meraih berbagai prestasi dan mendapat dukungan dana dari Kementerian Kebudayaan, serta membangun jejaring budaya hingga ke Jepang.

6. Leni Febrianti

Leni Febrianti adalah penggagas dan pemegang hak cipta Batik Kagano, yang diciptakan pada 2019 untuk menjadi identitas budaya Bengkulu Utara. Terinspirasi dari kekayaan alam dan karakter daerah, motif Batik Kagano mengangkat Kacamata Enggano dan Rafflesia Kemumu. Batik ini berhasil mengubah kekayaan lokal menjadi identitas visual yang dapat dikenali, digunakan, dan diwariskan. Batik Kagano kini menjadi seragam resmi pemerintah dan sekolah di Bengkulu Utara, menyatu dalam keseharian masyarakat. Kontribusinya meluas pada pengembangan ekosistem pelestarian budaya melalui pelatihan perajin, desa binaan, pendidikan, pemberdayaan UMKM, hingga pengenalan budaya ke tingkat internasional.

7. Maulana Muhammad Syuhada

Sejak 2002, Maulana Muhammad Syuhada aktif mempromosikan angklung di berbagai penjuru dunia. Ia mendirikan berbagai grup angklung dan kesenian tradisional di Eropa dan Amerika. Pada 2015, ia mendirikan Tim Muhibah Angklung (TMA) yang telah melakukan enam misi budaya ke Eropa, Australia, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. TMA berpartisipasi dalam festival internasional di berbagai negara dan mengadakan “Flash Mob Angklung” di landmark dunia. Maulana juga menulis buku tentang perjalanan musik Indonesia di Eropa dan menyutradarai film dokumenter tentang angklung. Ia mendirikan Angklung Centre sebagai platform online untuk kebutuhan angklung global, pusat pengetahuan, database, informasi, serta penjualan dan distribusi angklung.

8. Mugiyono Kasido

Mugiyono Kasido adalah maestro seniman tari, baik sebagai penari maupun koreografer, yang karya-karyanya telah dipentaskan di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Ia telah menghasilkan sejumlah karya tari fenomenal, seperti “Mencari Mata Candi” (2003) yang menggabungkan gerak tarian Siwa Candi Prambanan dengan tari topeng, wayang, dan tari modern, dipentaskan di Brussels, New York, Gothenburg, dan Paris. “Kabar Kabur” (sejak 2000-2024) yang membiaskan batas tari, teater, dan pantomim, telah dipentaskan 138 kali di 25 negara. Karya “Bima Suci” (2011) menampilkan tarian dan koreografi nonstop selama 36 jam lebih. “Bagaspati” (sejak 2001-2011) memadukan tari topeng Jawa tunggal dengan gerak sufi, dipentaskan di 11 negara. “Kosong” (1995-1996) menggunakan gamelan sebagai musik dan properti menari, dipentaskan di lima negara.

9. Muhammad Ridwan Alimuddin

Muhammad Ridwan Alimuddin adalah peneliti independen yang mendedikasikan diri pada revitalisasi kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq. Ia juga menjabat sebagai Duta Baca Sulawesi Barat dan pendiri Komunitas Bahari Mandar sejak 2006. Ridwan menginisiasi dan menjadi kurator program Student on Sandeq (SOS) yang berjalan dari 2022 hingga 2026, sebuah wadah edukatif yang mengenalkan generasi muda pada pembuatan dan pelayaran perahu tradisional. Ia aktif dalam festival Sandeq Race untuk melestarikan eksistensi pelaut lokal sejak 2001 dan terlibat dalam pelayaran rekonstruksi historis seperti ekspedisi Padewakang ke Australia (2019-2020). Ia juga mendirikan museum.

10. Poltak Tambunan

Poltak Tambunan adalah sastrawan nasional dan pendiri komunitas sastra etnik Tortor Sangombas. Ia membina penulis sastra modern dalam bahasa daerah, dengan fokus pada penyelamatan, pelestarian, dan pengembangan penulisan sastra modern berbahasa Batak. Poltak juga menciptakan berbagai karya sastra modern dalam bahasa Batak. Dedikasinya menginspirasi munculnya sastrawan dalam berbagai bahasa daerah dan membuatnya menerima sejumlah penghargaan dari Batak Center hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Tinggalkan komentar