Biodiesel Sawit Indonesia: Antara Ambisi Energi dan Tantangan Lingkungan

Pemerintah Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan dalam upaya pengembangan program biodiesel berbasis kelapa sawit. Isu tata kelola, termasuk perlindungan tutupan hutan, menjadi sorotan utama. Ambisi untuk meningkatkan pemanfaatan biodiesel dinilai memerlukan kesiapan pasokan yang matang dan penguatan sistem tata kelola perkebunan sawit.

Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, menyoroti ketergantungan pengembangan biodiesel pada satu komoditas utama, yaitu kelapa sawit. Ia mengingatkan bahwa pada awal pengembangan biodiesel, terdapat berbagai alternatif bahan baku atau feedstock. Namun, kelapa sawit akhirnya menjadi pilihan utama karena dinilai lebih memungkinkan dari sisi ketersediaan dan pembiayaan dibandingkan komoditas lainnya.

“Feedstock-nya awalnya banyak (komoditas), tapi kemudian feedstock-nya sawit karena memang memungkinkan dan yang memodali lebih banyak dibandingkan feedstock lainnya,” ungkap Nadia dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Nadia menjelaskan, peningkatan persentase pencampuran biodiesel dari B2,5 hingga kini menuju B50 tidak terlepas dari melimpahnya pasokan kelapa sawit. Namun, peningkatan ambisi biodiesel harus dibarengi dengan perhatian terhadap dampak lingkungan. Sektor kelapa sawit sendiri masih bergulat dengan berbagai persoalan tata kelola yang kompleks.

Pengembangan biodiesel yang tidak didukung kesiapan yang memadai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap hutan, terutama jika kebutuhan bahan baku diterjemahkan sebagai kebutuhan untuk membuka lahan baru. Nadia menekankan bahwa peningkatan produksi sawit tidak selalu harus melalui ekspansi lahan. Peningkatan produktivitas dari perkebunan yang sudah ada juga perlu menjadi fokus utama.

Selain isu lahan dan lingkungan, tata kelola pembiayaan sawit juga menjadi perhatian. Dana yang dihimpun dari pungutan ekspor dan dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dilaporkan masih memiliki berbagai dinamika dalam penyalurannya, termasuk terkait manfaat yang diterima oleh para petani.

Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan biodiesel domestik berpotensi bersaing dengan kepentingan ekspor. Perusahaan sawit cenderung memiliki insentif untuk menjual produk mereka ke pasar ekspor ketika harga global lebih menarik dibandingkan memasok kebutuhan dalam negeri.

“Jadi sebenarnya banyak sekali masalah, atau lika-liku dinamika yang ada di dalam persawitan ini, dan ini perlu kita lihat satu-satu, kita harus telusuri,” pungkas Nadia.

Tinggalkan komentar