Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 5,29% secara tahunan (year on year/yoy). Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi semester I-2026 mencapai sekitar 5,45%. Angka ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.
Meskipun demikian, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti bahwa investasi yang ada saat ini masih banyak didorong oleh pemerintah. Oleh karena itu, peran investasi swasta perlu ditingkatkan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Destry menjelaskan, pengeluaran belanja pemerintah dan berbagai program strategis pemerintah masih memberikan kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. “Untuk domestik kita melihat sejauh ini pertumbuhan masih cukup terkendali, di mana di triwulan II ekonomi kita masih tumbuh di level 5,29%, dan secara overall di semester I-2026 tumbuh di sekitar 5,45%. Hal ini banyak didukung oleh pengeluaran dari pemerintah dan investasi, khususnya juga terkait dengan konsumsi pemerintah dan beberapa program strategis pemerintah yang memberikan dampak terhadap perekonomian domestik kita,” kata Destry dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Dewan Gubernur BI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Ia menambahkan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu key driver dalam pertumbuhan ekonomi. Namun, investasi yang saat ini masih banyak didukung oleh investasi yang government-related menjadi tantangan ke depan. “Sehingga menjadi tantangan ke depan agar peran investasi pemerintah itu dapat kita terus tingkatkan,” ujarnya.
Dalam proyeksi BI, perekonomian Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,9%-5,7%. Pertumbuhan tersebut perlu ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta berbagai kebijakan pemerintah dan BI di tengah tekanan ekonomi global.
Untuk tahun 2027, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi meningkat ke kisaran 5,2%-6%. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi adanya peningkatan investasi swasta, termasuk investasi yang berasal dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). “Dari Bank Indonesia kita perkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di level 4,9% hingga 5,7% untuk tahun 2026, dan 2027 meningkat di level 5,2% hingga 6% di tahun 2027 dengan asumsi tentunya kita berharap kenaikan investasi swasta yang juga termasuk dalam hal ini adalah investasi dari BPI Danantara,” jelas Destry.
Penguatan investasi swasta menjadi krusial karena pertumbuhan ekonomi tidak dapat terus bergantung pada belanja dan investasi yang didorong pemerintah. Peningkatan investasi dunia usaha dibutuhkan untuk memperluas kegiatan sektor riil sekaligus memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Untuk mendukung hal tersebut, BI akan mengarahkan bauran kebijakannya untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter akan tetap diarahkan pada stabilitas, sementara kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, dan kebijakan pendukung lainnya akan diperkuat untuk menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi pembiayaan sektor riil, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.