Bank Mandiri dan BSI Perkuat Modal Lewat Instrumen Berbeda

JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sama-sama berupaya memperkuat permodalan guna menopang ekspansi bisnis. Bank Mandiri memilih jalur pasar global melalui penerbitan perpetual bond, sedangkan BSI menyiapkan rights issue hingga 6,8 miliar saham baru.

Bank Mandiri telah menyelesaikan penerbitan Additional Tier 1 (AT1) Capital berupa perpetual bond senilai US$750 juta. Instrumen ini ditawarkan kepada investor di luar wilayah Amerika Serikat dan dicatatkan di Singapore Stock Exchange dengan tingkat distribusi awal 7,35% per tahun pada 10 September 2026.

Sementara itu, BSI baru menyiapkan aksi Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II). Aksi ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp500 per saham. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 6 November 2026 dan ditargetkan rampung pada kuartal I-2027.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan persetujuan atas pencatatan realisasi penerbitan perpetual bond sebagai komponen modal inti tambahan Bank Mandiri. Hasil penerbitan tersebut telah diperhitungkan sebagai AT1 perseroan pada posisi akhir September 2026.

“Dana hasil penerbitan perpetual bond digunakan untuk memperkuat struktur dan rasio permodalan perseroan, serta mendukung ekspansi kegiatan usaha perseroan,” jelas Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista dalam keterbukaan informasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, aksi Bank Mandiri sebagai upaya memperkuat struktur permodalan, khususnya modal AT1. Hal ini juga sekaligus menyiapkan ruang bagi kebutuhan ekspansi bisnis dan pertumbuhan aset ke depan. Menurutnya, karakteristik perpetual bond sebagai instrumen AT1 memungkinkan bank memperkuat permodalan tanpa menerbitkan saham baru dan akan terlihat pada capital adequacy ratio (CAR).

“Dengan posisi CAR Bank Mandiri pada Juni 2026 berada di sekitar 17,9% secara konsolidasi, penguatan AT1 menjadi relevan untuk menjaga ruang pertumbuhan kredit sekaligus memberikan capital buffer yang lebih memadai di tengah ekspansi bisnis,” jelas Nafan.

Pertumbuhan kredit Bank Mandiri per Agustus 2026 secara bank only meningkat 17,6% (yoy) menjadi Rp1.592 triliun, jauh di atas kredit industri yang tumbuh 13,6% (yoy). Dampak terhadap CAR dari tambahan US$750 juta tersebut secara kasar setara lebih dari Rp12 triliun. Sebagai gambaran, total aset tertimbang menurut risiko (ATMR) Bank Mandiri secara konsolidasi sekitar Rp1.489 triliun per Juni 2026.

“Dengan demikian, apabila seluruh instrumen tersebut dapat diperhitungkan sebagai AT1 secara penuh, secara teoritis tambahan modal tersebut dapat memberikan kontribusi sekitar 0,8 percentage point terhadap rasio permodalan, sebelum memperhitungkan berbagai faktor regulasi, perubahan ATMR, serta komponen modal lainnya,” beber Nafan. Ruang ekspansi kredit tetap bergantung pada risk-weighted assets, kualitas aset, kebutuhan buffer modal, likuiditas, serta pertumbuhan ATMR.

BMRI Bayar Modal Lebih Mahal

Nafan mengungkapkan bahwa penerbitan perpetual bond membawa konsekuensi berupa biaya modal yang relatif tinggi. Tingkat kupon 7,35% memang lebih tinggi dibandingkan kupon senior global bond Bank Mandiri sebesar 5,25% yang telah diterbitkan pada Maret 2026. Namun, kedua instrumen tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena memiliki karakteristik risiko yang berbeda.

Perpetual bond AT1 bersifat subordinasi, tidak memiliki jatuh tempo seperti obligasi senior dan memiliki mekanisme penyerapan kerugian. Investor secara struktural meminta imbal hasil lebih tinggi. “Kupon 7,35% tidak tepat dibandingkan secara langsung dengan kupon global bond senior Bank Mandiri sebesar 5,25%,” kata Nafan.

Aksi tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya Bank Mandiri mengunci sumber modal jangka panjang di tengah ketidakpastian yield global dan volatilitas pasar. Konsekuensinya, bank harus menanggung biaya modal yang lebih mahal.

BSI Genjot Pembiayaan

Sementara itu, BSI memilih jalur pasar saham untuk memperkuat permodalannya. Dalam keterbukaan informasi, perseroan menyatakan seluruh dana hasil rights issue akan digunakan untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan kapasitas penyaluran pembiayaan.

“Permodalan untuk mendukung bisnis perseroan pada 2027 diproyeksikan meningkat dari Rp51,07 triliun di 2026 menjadi Rp64,41 triliun di 2027, sedangkan CAR diproyeksikan meningkat dari 20,38% menjadi 23,31%,” tulis BSI.

Nafan menilai, tujuan utama rights issue BSI adalah memperkuat modal untuk menopang ekspansi pembiayaan, bukan semata-mata untuk memenuhi ketentuan free float 15%. Meski demikian, aksi tersebut juga berpotensi memengaruhi struktur kepemilikan BSI. Per 30 September 2026, posisi free float BSI sekitar 9,91%, masih di bawah ketentuan minimum 15%.

“Rights issue maksimal 6,8 miliar saham lebih utama ditujukan untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan kapasitas penyaluran pembiayaan, bukan semata-mata sebagai aksi untuk memenuhi ketentuan free float,” imbuh Nafan.

Dia menjelaskan, pemegang saham lama yang tidak menggunakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) akan menjadi pihak yang terdilusi, meski tingkat dilusi final belum dapat dipastikan karena harga pelaksanaan dan jumlah saham yang benar-benar diterbitkan belum ditetapkan. BSI memperkirakan pemegang saham yang tidak mengeksekusi HMETD dapat mengalami dilusi maksimal sekitar 12,85%.

Tantangan BSI setelah rights issue bukan hanya menyerap dana, tetapi memastikan tambahan modal tersebut dapat dikonversi menjadi pertumbuhan pembiayaan dan laba. Harga pelaksanaan nantinya menjadi faktor penting bagi investor karena akan menentukan seberapa menarik rights issue tersebut dibandingkan harga pasar. Selain itu, investor perlu memperhatikan prospek pertumbuhan pembiayaan, kualitas aset, profitabilitas, serta kemampuan BSI menghasilkan return dari tambahan modal.

Tinggalkan komentar