Banjir besar yang dipicu oleh curah hujan tinggi selama akhir pekan melumpuhkan Ibu Kota Thailand, Bangkok. Meski genangan air dilaporkan mulai surut perlahan pada Senin (28/9/2026), sejumlah kawasan pemukiman dan ruas jalan utama masih terendam air, memicu gangguan signifikan pada aktivitas warga, rantai pasok logistik, hingga operasional bandara internasional.
Pemerintah Kota Bangkok melaporkan bencana banjir ini telah merendam sekitar 329.000 rumah tangga dan berdampak langsung pada 700.000 jiwa. Menanggapi krisis tersebut, Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menetapkan status tanggap darurat banjir di seluruh 50 distrik kota.
“Fokus utama kami saat ini adalah memprioritaskan bantuan bagi kelompok rentan, seperti lansia dan penyandang disabilitas, baik melalui penyerahan bantuan logistik maupun evakuasi,” tegas Gubernur Chadchart sebagaimana dikutip Associated Press, Selasa (29/8/2026). Saat ini, hampir 7.000 warga telah dievakuasi ke pusat-pusat pengungsian sementara.
Distrik Bang Kapi di wilayah timur Bangkok menjadi salah satu area yang mengalami dampak paling parah. Ketinggian air di lokasi ini sempat mencapai pinggang orang dewasa.
Kondisi darurat tersebut mendorong Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, turun langsung meninjau pemukiman tergenang di Bang Kapi dengan mengenakan sepatu boots karet untuk membagikan paket bantuan darurat.
Di sekitar stasiun kereta dan pusat perbelanjaan Bang Kapi, air setinggi lutut masih menggenangi jalanan pada Senin. Meski hujan terus mengguyur berselingan, warga terpaksa menerjang banjir untuk membeli kebutuhan pokok. Beberapa pengelola fasilitas publik bahkan menyediakan perahu kecil untuk mengangkut warga dari dan menuju stasiun.
Himpitan Ekonomi dan Dilema Warga
Dampak banjir tidak hanya merusak fasilitas fisik, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian warga rentan. Naowarat Supanikorn (55), seorang asisten rumah tangga yang tinggal bersama tiga ekor anjing dan enam ekor kucingnya, menceritakan betapa cepatnya air memasuki rumahnya pada Sabtu (26/9/2026) dini hari.
“Ketinggian air di lingkungan saya sempat melewati pinggang. Saya harus mengungsikan hewan-hewan peliharaan saya ke rumah tetangga,” ujar Naowarat.
Tekanan krisis kian berat setelah ia kehilangan pekerjaannya di sebuah kondominium karena tidak dapat hadir bekerja akibat akses jalan terputus. Upayanya untuk berjualan makanan di tepi jalan pun sepi pembeli karena kondisi banjir.
“Ini sangat membingungkan dan memicu stres. Jika tagihan listrik dan air datang, saya tidak tahu harus membayar dari mana karena sudah tidak memiliki pekerjaan. Tapi bagi saya, keselamatan hewan peliharaan adalah prioritas utama. Saya rela menahan lapar asalkan ada bantuan untuk hewan-hewan saya,” ungkapnya.
Efek Domino
Bencana ini memicu panic buying makanan di berbagai sudut kota serta mengganggu distribusi barang pokok. Banyak perusahaan mengalami krisis tenaga kerja karena para karyawan tidak dapat menjangkau tempat kerja akibat akses transportasi yang terputus.
Dampak paling krusial terjadi di Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok. Penumpukan ribuan bagasi penumpang tak terhindarkan akibat kurangnya personel darat dan gangguan moda transportasi bagi pekerja bandara.
Menanggapi situasi ini, Angkatan Udara Thailand mendistribusikan 69 personel darat ke Bandara Suvarnabhumi untuk membantu mengurai penumpukan bagasi penumpang.
“Penerjun militer ini merupakan misi vital untuk membantu dan memfasilitasi para wisatawan dari seluruh dunia, guna memastikan operasional berjalan lancar dan mencegah keterlambatan layanan darat yang dapat merusak citra negara,” rilis resmi Angkatan Udara Thailand.
Guna mengurangi mobilitas masyarakat dan mengurai kemacetan akibat banjir, Pemerintah Thailand resmi menetapkan hari libur khusus bagi kantor-kantor pemerintah pada hari Senin dan Selasa.
Peringatan Cuaca Ekstrem
Meskipun sistem drainase kota mulai mengalirkan luapan air dari empat kanal utama yang sempat meluap, Badan Meteorologi Thailand memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih mengancam sebagian besar wilayah Thailand, terutama wilayah Utara, Tengah, dan Timur.
Masyarakat yang berada di sekitar tepi sungai, area dataran rendah, dan kaki bukit diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko banjir bandang susulan, luapan sungai, dan tanah longsor dalam beberapa hari ke depan.
Secara geografis dan topografis, Bangkok merupakan salah satu megapolitan yang paling rentan terhadap bencana banjir di Asia Tenggara. Kota yang dibangun di atas dataran aluvial Sungai Chao Phraya ini berada pada ketinggian rata-rata hanya 1,5 meter di atas permukaan laut.
Beberapa faktor utama yang melatarbelakangi kerentanan banjir di Bangkok antara lain:
- Penurunan Muka Tanah (Sinking City): Kombinasi antara struktur tanah liat yang lunak, pembangunan infrastruktur gedung tinggi yang masif, serta penyedotan air tanah secara historis telah menyebabkan muka tanah Bangkok turun beberapa sentimeter setiap tahunnya.
- Kapasitas Drainase dan Kanal yang Terbatas: Bangkok mengandalkan jaringan kanal (klong) dan pompa air untuk mengalirkan luapan ke Sungai Chao Phraya sebelum menuju ke Teluk Thailand. Ketika curah hujan monsoon ekstrem bertepatan dengan pasang laut tinggi (king tide), sistem drainase kota dengan cepat mengalami kelebihan beban (overload).
- Peralihan Lahan dan Urbanisasi Cepat: Pembangunan kawasan permukiman dan betonisasi mengurangi area resapan air alami. Rawa-rawa dan saluran penampungan air tradisional kini telah beruba menjadi kawasan industri dan perkotaan.
Kombinasi antara dinamika iklim global yang memicu curah hujan ekstrem dan kondisi fisik wilayah menjadikan penanganan banjir di Bangkok sebagai tantangan struktural jangka panjang bagi Pemerintah Thailand.