Antrean kendaraan yang sempat mengular di jalur masuk Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kini dilaporkan mulai menyusut. Kemacetan panjang yang sempat terjadi menuju lintasan Jawa-Bali ini diduga kuat dipicu oleh keberadaan truk yang kelebihan muatan atau Over Dimension Over Loading (ODOL).
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyatakan bahwa layanan penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk terus menunjukkan perbaikan. Pada Jumat (2/10) pukul 14.00 WIB, antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang terpantau menyusut menjadi sekitar 0,5 kilometer, sementara arus kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk berjalan lancar.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyampaikan bahwa penguatan operasional terus dilakukan secara berkala dengan menyesuaikan kondisi lapangan guna memanfaatkan kapasitas pelayanan secara optimal. “Kami terus memantau perkembangan arus kendaraan dan penumpang secara berkala, sekaligus menyesuaikan pola operasi kapal dengan kondisi aktual di lapangan. Perkembangan antrean yang semakin terkendali menjadi bagian dari proses pemulihan layanan yang terus kami dorong,” ujar Heru dalam keterangan rilisnya.
Data operasional menunjukkan aktivitas pengguna jasa di Pelabuhan Ketapang tetap tinggi. Pada Rabu (30/9), tercatat 19.101 penumpang dan 5.881 kendaraan, meningkat 4,57% dibanding hari sebelumnya. Pada Kamis (1/10), jumlah penumpang mencapai 19.942 orang dengan 5.745 kendaraan.
ASDP terus menyesuaikan kapasitas layanan di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Saat ini, sebanyak 27 kapal dioperasikan di Pelabuhan Ketapang, tersebar di lima kapal di Dermaga MB 1, lima kapal di Dermaga MB 3, 12 kapal di Dermaga LCM, dan lima kapal di Dermaga MB 4. Kapal KMP Portlink VII juga turut diperbantukan di Dermaga MB 4 untuk menambah fleksibilitas.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menekankan bahwa kelancaran layanan bergantung pada pengaturan distribusi kendaraan, pemanfaatan fasilitas dermaga, dan koordinasi pemangku kepentingan. “Kami memahami bahwa kelancaran penyeberangan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat maupun distribusi logistik. Karena itu, setiap perkembangan di lapangan terus kami respons dengan pengaturan operasional yang dinamis. Upaya ini kami lakukan agar pergerakan kendaraan dapat berlangsung lebih tertib dan waktu tunggu pengguna jasa terus ditekan,” jelas Media.
Lonjakan Kendaraan dan Penanganan
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjung Wangi juga terus melakukan pengendalian dan koordinasi untuk menangani kepadatan kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang.
Pada Rabu (30/9) pukul 12.35 WIB, penumpukan kendaraan yang sebelumnya mencapai 10 km dari Pelabuhan Ketapang hingga wilayah Bangsring, Wongsorejo, telah terurai menjadi tersisa 3,5 km.
Kepala KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Capt. Purgana, menjelaskan kepadatan sebelumnya dipengaruhi oleh lonjakan volume kendaraan logistik, belum optimalnya kapasitas sandar akibat perbaikan dermaga, serta penggunaan dermaga yang bergantian oleh beberapa kapal.
KSOP Kelas III Tanjung Wangi bersama Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), PT ASDP Indonesia Ferry, operator kapal, kepolisian, dan stakeholder terkait terus berkoordinasi. Optimalisasi pengoperasian kapal dan dermaga dilakukan, serta koordinasi dengan operator untuk mempercepat proses pemuatan dan keberangkatan kapal.
Saat ini, terdapat 29 kapal beroperasi di sejumlah dermaga: 10 kapal di MB I dan MB III, 3 kapal di MB II, 12 kapal di LCM, dan 4 kapal di MB IV. Aktivitas bongkar muat berjalan lancar di masing-masing dermaga.
“Pengaturan operasional kami lakukan dengan memperhatikan kondisi di lapangan, termasuk ketepatan waktu sandar, proses pemuatan kendaraan, penerbitan Surat Persetujuan Berlayar, hingga keberangkatan kapal. Kami juga terus berkoordinasi dengan operator untuk mengupayakan penggunaan dermaga seefektif mungkin,” jelas Capt. Purgana.
Pengaturan arus kendaraan menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang terus dilakukan, dengan kendaraan diarahkan mengikuti jalur dan lokasi antrean yang telah ditentukan. Petugas memantau pergerakan kendaraan dari titik antrean hingga masuk area pelabuhan.
KSOP Kelas III Tanjung Wangi mengupayakan agar kendaraan yang telah dilayani segera diarahkan menuju kapal untuk memastikan pelayanan berkesinambungan dan penumpukan kendaraan terkendali. “Situasi masih terus kami pantau dan koordinasikan. Setiap perkembangan akan menjadi bahan evaluasi untuk memastikan pengendalian antrean dan pelayanan penyeberangan dapat berjalan dengan tertib, aman, dan tetap mengutamakan keselamatan pelayaran,” tutup Capt. Purgana.
Dugaan Oknum Truk ODOL Picu Antrean
Pengamat maritim Siswanto Rusdi menilai kemacetan panjang di jalur menuju Pelabuhan Ketapang akibat kurangnya ketegasan aparat terhadap muatan Over Dimension Over Loading (ODOL) pada truk. “Kepadatan di Ketapang bukan karena pelabuhan tidak siap melayani. Akan tetapi dikarenakan kendaraan truk ODOL melebihi kapasitas dermaga yang tersedia,” kata Siswanto, Direktur The National Maritime Institute (Namarin).
Menurutnya, jumlah dermaga yang memadai seharusnya tidak menimbulkan kemacetan jika truk yang datang sesuai ketentuan. Ia menambahkan, justru saat ini pelabuhan yang diminta menyesuaikan melayani truk ODOL. “Truk ODOL tidak dilarang melintas di jalan dan bahkan dibiarkan masuk ke pelabuhan hingga terpaksa harus dimuat ke kapal,” tegasnya.
Siswanto juga mendengar adanya dugaan oknum sopir truk yang melakukan pemblokiran di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. “Kalau info itu benar, ini kan sangat ironi. Ini tentu sangat membahayakan pelayaran dan keselamatan penumpang yang tidak dapat sandar di pelabuhan, mengganggu kelancaran distribusi barang dan menghambat perekonomian,” jelas Siswanto.
Dampak terbesarnya adalah memicu benturan di lapangan, karena penumpang tidak diperbolehkan naik ke atas kapal oleh oknum yang melakukan pemblokiran. “Pihak keamanan pelabuhan, kepolisian dan TNI harus bertindak tegas. Mereka harus ditindak tegas atas kejadian yang membahayakan dan merugikan masyarakat,” pungkasnya.