Andry Hakim Ungkap Alasan Spekulatif Beli Saham MGLV Rp 10 Miliar

JAKARTA – Investor muda sekaligus pendiri dan chief investment officer (CIO) Hakimson.id, Andry Hakim, mengungkapkan bahwa ia membeli saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) dengan investasi hampir mencapai Rp 10 miliar. Keputusan ini diambil meskipun harga saham MGLV telah mengalami lonjakan signifikan, dari kisaran ratusan rupiah menjadi sekitar Rp 4.000-an pada saat pembelian.

Andry Hakim menyatakan bahwa harga rata-rata pembelian saham MGLV berada di kisaran Rp 4.000-an. Ketertarikannya muncul setelah mengamati perubahan fundamental bisnis MGLV. Perusahaan yang sebelumnya bergerak di bidang furnitur ini mulai dikaitkan dengan ekosistem bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk pengembangan data center AI.

“Sebenarnya untuk MGLV, saya tidak begitu dapat banyak informasi. Jadi waktu itu harganya sudah terbang dari ratusan perak ke Rp 4.000. Jadi harga beli saya rata-rata sekitar Rp 4.000-an,” ungkap Andry Hakim dalam sebuah podcast yang disiarkan Stockbit, dikutip pada Kamis (1/10/2026).

Salah satu pertimbangan utama Andry dalam membeli saham MGLV adalah pola backdoor listing yang sebelumnya ia temukan pada sejumlah saham lain dan memberikan keuntungan besar. Ia mengaku telah meraih keuntungan signifikan dari saham-saham seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), hingga PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) melalui strategi ini.

Andry menceritakan pengalaman awalnya dengan ARTO, di mana investasi awal sekitar Rp 500 juta berkembang nilainya hingga mendekati Rp 20 miliar. Pengalaman sukses ini mendorongnya untuk terus menerapkan strategi serupa.

“Jadi saya merasa harus backdoor. Repeat-repeat terus. Dari ARTO, PANI, CBRE, lalu MGLV. Semuanya kasih saya untung gede-gede,” ujarnya.

Selain pola backdoor listing, Andry juga menyoroti keterlibatan Patrick Walujo. Ia menilai narasi seputar AI dan data center memiliki potensi menjadi cerita pertumbuhan bisnis berikutnya, sejalan dengan tren yang telah berkembang di Amerika Serikat.

“Waktu itu market cap MGLV baru Rp 5 triliunan. Saya percaya orang seperti dia tidak akan puas dengan market cap Rp 5 triliun. Apalagi ke depannya, data center AI menjadi narasi berikutnya,” katanya.

Andry mengakui bahwa pembelian saham MGLV ini bersifat spekulatif dan tidak dilakukan secara all in. Namun, ia menyebutkan bahwa posisi investasinya telah meningkat sekitar 250%, menghasilkan keuntungan hampir belasan miliar rupiah. Ia juga menambah kepemilikannya dengan menebus saham saat rights issue MGLV, yang menurutnya membuat saham MGLV menjadi lebih likuid karena penambahan jumlah saham beredar.

Tinggalkan komentar