Harga emas dunia menghadapi tekanan signifikan pada perdagangan Senin (28/9/2026), terbebani oleh penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed. Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat anjlok 2,05% ke level US$ 4.197,47 per ons troi.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, memperingatkan bahwa harga emas berpotensi melanjutkan pelemahannya menuju rentang US$ 4.180–4.133 per ons troi apabila tekanan jual kembali menguat. Menurut Geraldo, struktur teknikal harga emas mulai berubah setelah menembus level support sebelumnya, yang kini berpotensi menjadi resistance baru di kisaran US$ 4.243–4.272 per ons troi.
“Selama harga belum mampu menembus sekaligus bertahan di atas zona resistance tersebut, tekanan bearish masih menjadi skenario yang dominan,” ujar Geraldo dalam analisisnya pada Senin (28/9/2026). Oleh karena itu, area US$ 4.243–4.272 per ons troi menjadi level krusial yang perlu dicermati. Kegagalan emas untuk menembus kembali zona tersebut akan membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju US$ 4.180–4.133 per ons troi.
Secara fundamental, Geraldo menambahkan bahwa pergerakan harga emas di bawah US$ 4.300 per ons troi sejalan dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Data ekonomi AS yang kuat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama, atau bahkan menaikkannya kembali jika tekanan inflasi belum mereda.
“Ekspektasi tersebut menopang dolar AS sekaligus menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil,” tegasnya. Kenaikan harga minyak juga menjadi faktor yang patut diperhatikan. “Harga energi yang lebih tinggi berpotensi memperkuat tekanan inflasi sehingga pasar dapat memperkirakan kebijakan moneter AS tetap ketat lebih lama,” kata Geraldo.
Pada perdagangan Senin, harga minyak kembali menguat akibat ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara itu, dolar AS bergerak di sekitar level tertingginya dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini memberikan tekanan ganda pada emas. Meskipun ketegangan geopolitik AS-Iran berpotensi meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven, kenaikan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dapat mendorong yield obligasi dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas.
Dupoin Futures menyarankan agar pelaku pasar mencermati pergerakan dolar AS, yield obligasi, harga minyak, serta perkembangan konflik AS-Iran sebagai katalis utama harga emas. Dari perspektif teknikal, resistance di US$ 4.243–4.272 per ons troi merupakan level kunci. Selama emas belum mampu menembus dan bertahan di atas zona tersebut, peluang pelemahan menuju US$ 4.180–4.133 per ons troi tetap terbuka.
“Sebaliknya, jika emas mampu menembus resistance tersebut secara meyakinkan, tekanan bearish berpotensi mereda dan struktur pergerakan jangka pendek dapat berubah,” tutup Geraldo.