Alfamidi (MIDI) Berpotensi Menguat Hampir 100% di Tengah Valuasi Murah

JAKARTA – Saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) atau Alfamidi berpotensi mencatatkan kenaikan signifikan, bahkan hampir 100%, seiring dengan membaiknya valuasi dan pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan. Pada perdagangan Senin (5/10/2026), saham MIDI tercatat menghijau dengan penguatan 1,60% ke level Rp 254.

Pergerakan positif ini terjadi setelah saham MIDI mengalami tren penurunan sejak 25 September hingga 2 Oktober 2026. Data perdagangan kemarin menunjukkan sebanyak 7,41 juta saham Alfamidi ditransaksikan melalui 2.609 kali frekuensi dengan total nilai mencapai Rp 1,84 miliar.

Meskipun secara year-to-date (ytd) saham MIDI telah terkoreksi hampir 35%, investor asing terpantau melakukan akumulasi atau net buy senilai Rp 76,35 miliar sepanjang periode tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya pandangan positif dari pelaku pasar institusional terhadap prospek saham emiten ritel ini.

Analisis valuasi menunjukkan bahwa saham MIDI saat ini diperdagangkan pada harga yang relatif murah. Rasio price to book value (PBV) berada di angka 1,43 kali, yang mana lebih rendah dari rata-rata standar deviasi PBV 3 tahun terakhir sebesar 2,34 kali. Selain itu, rasio price earning ratio (PER) tercatat 9,57 kali (TTM), berada di kisaran -2 standar deviasi PER 3 tahun terakhir pada 9,01 kali.

Mandiri Sekuritas dalam laporannya pada 5 Oktober 2026, masih merekomendasikan saham Alfamidi dengan predikat ‘buy’ dan menetapkan target harga Rp 500. Jika mengacu pada harga penutupan terakhir di Rp 254, potensi keuntungan atau ‘cuan’ bagi investor bisa mencapai sekitar 96,85%, mendekati potensi ‘bagger’ atau saham yang memberikan keuntungan seratus persen.

Dari sisi kinerja fundamental, Alfamidi membukukan pendapatan neto sebesar Rp 11,24 triliun sepanjang semester I-2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan dari Rp 10,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih yang diraih perusahaan juga mengalami peningkatan, dari Rp 390,51 miliar menjadi Rp 485,97 miliar pada enam bulan pertama tahun ini.

Tinggalkan komentar