Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin merambah dunia kesehatan, menawarkan solusi inovatif untuk membantu dokter dalam penanganan pasien penyakit jantung. Sebuah terobosan datang dari peneliti Universitas Prasetiya Mulya yang berhasil mengembangkan sistem navigasi berbasis komputer canggih. Sistem ini dirancang khusus untuk memberikan dukungan kepada para dokter selama menjalankan prosedur krusial seperti pemasangan kateter dan stent.
Pengembangan sistem yang dinamai Computer Assisted Medical Intervention for Percutaneous Coronary Intervention (CAMI-PCI) ini merupakan hasil penelitian Agung Alfiansyah, Faculty Member Program Studi AI & Robotics Universitas Prasetiya Mulya. CAMI-PCI hadir untuk mempermudah dokter dalam melakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI), sebuah tindakan medis yang menggunakan kateter dan stent guna mengatasi penyumbatan pada pembuluh darah.
Dalam praktik medisnya, dokter seringkali harus mengarahkan alat medis melalui pembuluh darah dengan mengandalkan panduan citra sinar-X dua dimensi. Padahal, struktur organ yang ditangani bersifat tiga dimensi dan memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Kondisi ini dapat menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan ketepatan tindakan.
CAMI-PCI dikembangkan dengan menggabungkan data dari Computed Tomography Scan (CT Scan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) dengan citra fluoroscopy secara real-time. Pendekatan inovatif ini memungkinkan pemantauan posisi kateter dan kondisi pembuluh darah secara lebih akurat selama prosedur berlangsung.
Agung Alfiansyah menekankan bahwa pengembangan AI seharusnya tidak terbatas pada teknologi yang menghasilkan teks, gambar, chatbot, atau robot semata. Potensi AI sangat luas, termasuk dalam membantu penyelesaian berbagai permasalahan di sektor kesehatan. “AI sering dipersepsikan identik dengan robot atau chatbot. Padahal, potensinya jauh lebih luas. Melalui penelitian ini, kami ingin menunjukkan bahwa AI juga dapat membantu dokter mengambil keputusan yang lebih presisi sehingga manfaat akhirnya kembali kepada pasien,” ujar Agung dalam keterangannya.
Pengembangan CAMI-PCI melibatkan integrasi berbagai bidang teknologi mutakhir, meliputi artificial intelligence, computer vision, medical image processing, sensor fusion, embedded system, dan software engineering. Sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran maupun keputusan dokter, melainkan berfungsi sebagai ‘navigator digital’ yang menyajikan informasi tambahan krusial selama prosedur.
Visualisasi yang lebih komprehensif diharapkan mampu membantu dokter dalam mengambil keputusan dengan lebih cepat dan presisi, sekaligus meminimalkan keterbatasan yang seringkali dihadapi pada pencitraan konvensional. “Kami tidak ingin menggantikan keputusan dokter, tetapi memberikan informasi yang lebih lengkap agar setiap keputusan dapat diambil dengan lebih tepat. Harapannya, tindakan menjadi lebih aman, lebih efisien, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien,” tambah Agung.
Agung menambahkan bahwa pengembangan AI di masa depan tidak hanya diukur dari kecanggihan algoritmanya, tetapi juga dari manfaat nyata yang dapat dihadirkan dalam kehidupan manusia. Program Studi AI & Robotics Universitas Prasetiya Mulya pun berupaya membekali mahasiswanya agar mampu mengintegrasikan AI dengan berbagai sektor, mulai dari kesehatan, manufaktur, energi, hingga industri digital.
Penelitian CAMI-PCI menjadi salah satu bukti nyata penerapan teknologi AI di bidang kesehatan, khususnya sebagai sistem pendukung yang vital bagi dokter dalam penanganan penyakit jantung.