Sebanyak 30 klub sepak bola berjalan atau walking football dari berbagai penjuru Indonesia, serta tamu dari Singapura dan Malaysia, akan unjuk gigi dalam Indonesia Walking Football Championship (IWFC) 2026. Turnamen ini diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Perkumpulan Sepak Bola Berjalan Seluruh Indonesia (Persejasi) di GOR Ciracas, Jakarta Timur, pada Sabtu (3/10/2026) hingga Minggu (4/10/2026).
IWFC 2026 dirancang sebagai liga piala supremasi walking football berskala nasional di Tanah Air. Ketua Umum PP Persejasi, Hendra Hartono, menyatakan bahwa ajang ini menjadi wadah berkumpulnya klub-klub walking football terbaik dari 28 provinsi di Indonesia. “Ini adalah ajang kumpul seluruh klub walking football terbaik dari 28 provinsi di Indonesia, bahkan turut dimeriahkan tim tamu dari Singapura dan Malaysia. Total ada 30 klub yang siap memperebutkan Piala Supremasi IWFC 2026,” ujar Hendra.
Turnamen ini secara khusus ditujukan bagi peserta berusia 40 tahun ke atas. Hendra menjelaskan bahwa walking football dipandang sebagai perpanjangan karier bagi para mantan pesepak bola atau individu yang ingin tetap aktif berolahraga dengan cara yang lebih aman, terutama ketika faktor usia mulai membatasi. “Kami melihat walking football sebagai perpanjangan karier bagi mereka yang ingin terus bermain bola dengan cara yang lebih aman, terutama saat faktor usia mulai membatasi. Kami harap turnamen ini menjadi pilihan utama bagi mereka yang masih punya semangat bertanding,” tambahnya.
Format pertandingan IWFC 2026 mengadopsi ukuran lapangan futsal. Setiap laga berdurasi 30 menit, dibagi menjadi dua babak masing-masing 12,5 menit, dengan jeda istirahat selama lima menit.
Dewan Pembina Persejasi DKI Jakarta, Leles Sudarmanto, yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta, menyambut baik penyelenggaraan acara ini. Ia menekankan pentingnya dukungan maksimal dari Jakarta sebagai kota global terhadap perkembangan walking football. “Sebagai global city, Jakarta perlu memfasilitasi tren positif ini secara maksimal. Terlebih, olahraga ini sudah menarik minat tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dari negara tetangga. Ini harus kita dorong, agar walking football bisa dinikmati oleh lebih banyak masyarakat luas,” tegas Leles.
Leles berharap kegiatan ini dapat semakin memasyarakatkan walking football sebagai olahraga rekreasi yang inklusif dan dapat diakses oleh semua kalangan usia. Ia juga menyatakan komitmennya untuk mendorong olahraga ini lebih luas, termasuk di lingkungan MRT. “Inisiatif dari komunitas yang selama ini belum terlihat harus terus kita dorong agar manfaatnya dirasakan bersama. Sebagai Komisaris MRT, saya juga akan mendorong agar walking football ini bisa diperkenalkan ke lingkungan MRT,” tutup Leles.
Walking football pertama kali dicetuskan di Inggris pada tahun 2011. Olahraga ini merupakan variasi sepak bola konvensional yang dirancang khusus untuk menjaga kebugaran kelompok usia lanjut. Aturan mendasarnya meliputi larangan berlari (satu kaki harus selalu menyentuh tanah), tidak adanya kontak fisik berat seperti tackling, dan menjaga agar bola tidak melayang di atas pinggang pemain.
Peraturan ketat tersebut bertujuan untuk meminimalkan risiko cedera pada sendi, benturan kepala, dan beban kardiovaskular berlebih yang kerap dihadapi pemain usia senior. Seiring waktu, walking football telah berkembang menjadi gerakan gaya hidup sehat di berbagai negara karena menawarkan manfaat ganda, yaitu kebugaran fisik, kesehatan mental, serta interaksi sosial antar sesama pegiat olahraga.
Di Indonesia, PP Persejasi memainkan peran sentral dalam melembagakan walking football, mentransformasikannya dari sekadar aktivitas rekreasi komunitas menjadi ajang kompetisi yang terstruktur, baik di tingkat nasional maupun internasional.