Pasar saham global menunjukkan reli historis sejak awal 2023, memberikan keuntungan bagi investor yang bertahan melewati gejolak pasar pada 2022. Indeks S&P 500 membukukan imbal hasil total sekitar 24% pada 2023, 23% pada 2024, dan 16% pada 2025. Hingga 30 September 2026, S&P 500 terus mencatat kenaikan sekitar 12% year-to-date (YTD). Sementara itu, indeks Nasdaq Composite tumbuh lebih pesat dengan lonjakan berturut-turut mendekati 43%, 29%, dan 20% pada periode tiga tahun tersebut, serta bertambah sekitar 16% YTD hingga akhir September 2026.
Reli panjang dan agresif seperti ini tergolong jarang terjadi. Pertanyaan krusial bagi para investor saat ini adalah: jika bear market (kondisi pasar lesu) kembali datang, langkah apa yang harus diambil untuk tetap unggul? Investor kawakan Warren Buffett telah membagikan panduan strategis untuk menavigasi situasi tersebut.
Reli Multitahun Didorong Demam AI
Pemicu utama lonjakan pasar saham belakangan ini adalah peluncuran komersial ChatGPT oleh OpenAI pada akhir 2022, yang memicu gelombang investasi besar-besaran. Investor menilai teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mentransformasi seluruh sektor industri utama, diiringi belanja modal fantastis pada penyediaan cip, pusat data (data center), dan perangkat lunak.
Kondisi ekonomi yang stabil serta laba korporasi yang solid mengubah pemulihan awal menjadi reli panjang menuju rekor tertinggi sepanjang masa. Namun, kinerja sepesat ini jarang bertahan selamanya tanpa koreksi. Rasio Shiller CAPE saat ini berada di kisaran angka 40, sebuah level evaluasi tinggi yang sebelumnya hanya pernah terlihat pada puncak gelembung dot-com. Meskipun valuasi yang tinggi tidak serta-merta menjamin potensi krisis dalam waktu dekat, secara historis kondisi ini sering kali mendahului periode imbal hasil yang lebih rendah atau pembalikan arah pasar selama bertaraf tahunan.
Seberapa Sering Bear Market Terjadi?
Bear market, yang didefinisikan sebagai penurunan harga saham sebesar 20% atau lebih dari titik tertinggi utamanya, sebenarnya bukan fenomena langka. Sejak 1928, bear market terjadi rata-rata setiap 3,5 tahun sekali. Sejak Perang Dunia II, frekuensinya merenggang menjadi sekitar lima tahun sekali. Bear market umumnya berlangsung singkat, yakni sekitar sembilan bulan, dan menekan S&P 500 turun rata-rata hingga 35% sebelum menyentuh titik terendah (bottom).
Berdasarkan siklus historis, munculnya bear market baru dalam waktu dekat bukanlah skenario yang mustahil. Indikator makroekonomi saat ini menunjukkan gambaran campuran (mixed signals). PDB Real menunjukkan pertumbuhan ekonomi masih mengepakan sayap di kisaran 1,5% per tahun. Tingkat Pengangguran berada di kisaran 4,1%, angka yang terbilang sehat secara historis. Inflasi, meski telah mereda dibanding puncak 2022, masih bersifat sticky (sulit turun) dan berada di atas target bank sentral AS (The Fed) sebesar 2%.
Kondisi ini memang bukan resep menuju resesi, tetapi juga bukan jaminan kesehatan ekonomi yang sempurna. Valuasi yang tinggi dan inflasi yang persisten membuat sebagian pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi koreksi mendalam.
Apa yang Akan Dilakukan Warren Buffett?
Saran utama dari Warren Buffett bukanlah menjual seluruh portofolio dan keluar dari pasar. Sebaliknya, The Oracle of Omaha menganjurkan pendekatan yang berlawanan. Saat bear market terjadi, Buffett memilih untuk terus berinvestasi sembari memegang cadangan kas yang cukup agar dapat mengeksekusi peluang aset berkualitas yang harganya jatuh (undervalued).
Strategi ini mencerminkan prinsip terkenalnya: “Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful.” (Takutlah saat orang lain serakah, dan serakahlah saat orang lain takut.) Melalui konglomerat investasinya, Berkshire Hathaway, Buffett menerapkan strategi ini secara konsisten. Meskipun pasar melonjak pasca-2022, Berkshire tercatat menjadi penjual bersih (net seller) saham selama 14 kuartal berturut-turut.
Langkah ini membuat tumpukan kas dan obligasi pemerintah (Treasuries) milik Berkshire melesat dari US$ 128 miliar menjadi rekor tertinggi mendekati US$ 397 miliar pada awal 2026. Jumlah dana tunai tersebut sangat besar dan mampu membeli hampir semua perusahaan besar yang terdaftar di indeks S&P 500. Baru pada akhir tahun lalu hingga sepanjang 2026, setelah pimpinan eksekutif perlahan diserahkan kepada Greg Abel, Berkshire mulai menyalurkan dana secara hati-hati melalui akuisisi strategis berskala besar. Hal ini menunjukkan Buffett lebih memilih menunggu peluang emas daripada sibuk mengejar momentum pasar.
Strategi Praktis Bagi Investor Ritel
Mencoba menebak waktu terbaik masuk atau keluar pasar (market timing) sulit dilakukan karena hari-hari terbaik dan terburuk di pasar saham sering kali terjadi berdekatan. Strategi praktis yang disarankan meliputi:
- Rutin Berinvestasi secara Konsisten: Lanjutkan pembelian saham perusahaan berkualitas yang memiliki keunggulan kompetitif bertahan lama (durable competitive advantage) secara teratur, terlepas dari kondisi pasar.
- Menjaga Cadangan Kas (Cash Reserve): Siapkan sejumlah dana tunai di luar dana darurat. Ketika bear market benar-benar tiba, Anda berada dalam posisi siap memanfaatkan diskon harga saham saat investor lain melakukan aksi jual karena panik (panic selling).
Untuk memahami mengapa strategi Warren Buffett efektif saat menghadapi bear market, investor perlu memahami akar filosofi investasinya, yaitu Value Investing (investasi nilai). Dipelopori oleh Benjamin Graham, guru besar Buffett di Columbia University, metode ini berfokus pada penilaian nilai intrinsik suatu bisnis ketimbang fluktuasi harga saham jangka pendek.
Buffett memandang saham bukan sekadar sekuritas berfluktuasi di layar monitor, melainkan kepemilikan riil atas bagian sebuah bisnis. Oleh karena itu, penurunan harga saham yang disebabkan oleh kepanikan pasar (bear market) dipandang sebagai “diskon besar” untuk membeli bisnis hebat dengan harga murah. Akumulasi kas bernilai fantastis oleh Berkshire Hathaway (mencapai US$ 397 miliar pada awal 2026) bukan bentuk ketakutan terhadap pasar, melainkan bentuk kedisiplinan tinggi. Dalam iklim investasi modern yang sering didorong oleh spekulasi jangka pendek dan rumor media sosial, mempertahankan likuiditas serta memegang teguh kalkulasi fundamental menjadi benteng pertahanan terbaik bagi investor jangka panjang.